Filsafat / Filsafat Yunani

Filsafat Parmenides

  1. school_athensBiografi Parmenides
    Parmenides merupakan filsuf Yunani yang lahir di Elea, sebuah kota di daerah Italia selatan, dan sudah dewasa pada paruh abad ke 5-SM. Ia merupakan pendiri madzhab Eleatic dan banyak berguru pada Xenophanes, guru Zeno dan banyak mempengaruhi pemikiran Plato di masa sesudahnya. Plato menamakan dialognya Parmenides, diambil dari namanya, yang menampilkan pendirian filosofisnya yang utama. Parmenides menulis on nature, sebuah puisi didaktik yang terdiri dari tiga bagia: puisi pendahuluan, “Di Jalan Kebenaran” dan “Jalan Kepalsuan atau Ilusi.”  Berikut ini salah satu contoh tulisannya tentang “Jalan Kebenaran”;“Engkau tak dapat mengetahui sesuatu yang tak ada ataupun mengutarakannya; sebab sesuatu yang   dipikirkan dan seuatu yang ada adalah sama. Lantas, bagaimanakan sesuatu yang ada sekarang akan menjadi sesuatu di saat mendatang? Atau bagaimana ia menjadi ada? Jika sesuatu itu menjadi ada, sesuatu itu tidak ada; begitu pula jika sesuatu itu menjadi sesuatu di saat mendatang, maka menjadi ada itu tidak ada dan menjadi menjadi tak ada itu tak perlu dihiraukan.”“Sesuatu yang dapat dipikirkan dan karena sesuatu itu pikiran ada adalah sama. Karena engkau tak dapat menemukan pemikiran tanpa sesuatu yang ada, yang karena itu bisa diutarakan.”      Pada masa ini, dikisahkan oleh Plato bahwa Socrates pernah bertemu dengan parmenides dan melakukan dialog yang ketika itu  Parmenides sudah mulai lanjut usia, dan socrates banyak belajar darinya. Ini terbukti bahwa Plato sendiri dipengaruhi –dalam beberapa hal –oleh doktrin parmenides.
  2. Pemikiran-Pemikiran Parmenides
    Parmenides merupakan filsuf yang disebut-sebut sebagai bapak logika pertama. Karena dalam beberapa pemikirannya, terlihat bahwa ia menggunakan syarat kebenaran koherensi dan konsistensi. Sebagaimana Aristoteles yang memasukkan prinsip no-kontradiksi sebagai salah satu principia. Selain Parmenides menemukan logika dalam membangun pemikirannya, ia juga terlihat sangat metafisis dalam beberapa ognum-ovusnya, terutama dalam pemikirannya tentang kebenaran absolute, yang tetap dan tidak berubah.Parmenides membagi arah pemikiran menjadi dua jalan; The way of truth  and the way of brief or opinion.[1] Pembagian ini dilatar belakangi oleh keyakinannya tentang kebenaran tunggal (pasti, absolute) dan kebenaran semu (opinion). Dalam hal ini, Mohammad Hatta memberi penjelasan lebih sederhana terhadap pemikiran Parmenides  dengan dua pembagian:Pertama, Kebenaran absolute. Kebenaran ini bersifat mutlak, apa adanya,  abadi dan tak akan pernah menjadi tidak ada. Sedangkan yang kedua, kebenaran pendapat manusia, yaitu kebenaran yang secara objektif tidak ada kebenaran di dalamnya. Dengan perkataan lain, itu hanyalah prasangka manusia. Prasangka itulah yang mengatakan ada yang banyak padahal “yang banyak” itu tidak ada.[2]Lebih lanjut, kami akan memberikan penjelasan lebih detail tentang poin-poin tersebut, bahwa Parmenides sesungguhnya tidak mendefinisikan apa itu “yang ada”. Akan tetapi, ia menyebutkan beberapa sifatnya yang meliputi segala sesuatu.  Menurutnya, yang ada itu memiliki empat sifat, yaitu: tidak bergerak, tidak tergoyahkan, tidak berubah, tidak terhancurkamn dan tidak dapat disangkal eksistensinya. Sehingga, bagi orang yang mengatakan bahwa “yang ada” itu tidak ada, itu berarti secara logis “yang ada itu ada”. Karena ketika orang mengatakan bahwa “yang ada itu tidak ada” , maka ia tidak dapat menyangkal adanya “yang ada”. Dari situ muncullah adagium terkenal dari Parmenides yang berbunyi:”Hanya yang ada itu ada”.[3]

    Kalau orang menyangkal bahwa “yang ada” itu tidak ada, dengan sendirinya orang itu mengakui bahwa “yang ada” itu ada. Sebab, kalau benar “yang ada” itu tidak ada, maka orang itu tidak dapat menyangkal adanya “yang ada”. Jadi, kenyataan bahwa “yang ada” itu dapat ditolak keberadaannya menunjukkan “yanga ada” itu memang ada, sedangkan “yang tidak ada” itu tidak ada!

    Sesuatu yang tidak ada sama sekali tidak dapat dikatakan atau dipikirkan apalagi didiskusikan (disanggah atau diiyakan). Sebaliknya, “yang ada” itu selalu dapat dikatakan, dipikirkan dan didiskusikan. Oleh karena itu, pernyataan Parmenides ini jadi jadi popular:”ada dan pemikiran itu adalah sama.”[4] Maksudnya, “yang ada’ itu selalu bisa dipikirkan, dan yang dapat dipikirkan itu selalu ada.

    Untuk menjelaskan secara mudah pemikiran ini, kami akan memberikan contoh sederhana dalam keseharian Mahasiswa. Misalnya, Harkaman mengatakan bahwa,”Tuhan itu tidak ada!”[5]. Tuhan yang eksistensinya ditolak oleh oleh Harkaman itu sebenarnya ada. Artinya, Tuhan harus diterima sebagai dia “yang ada.” Mengapa demikian? Sebab, kalau Harkaman mengatakan Tuhan itu tidak ada, maka Harkaman sudah menerima terlebih dahulu empat proses: (1) Siapa atau apakah Tuhan itu, atau Harkaman telah mempunyai konsep tentang Tuhan, (2) Konsep Tuhan yang telah ia pikirkan, disanggah eksistensinya olehnya dengan berkata, (3) “Tuhan tidak ada!”. Maka, yang dapat dipikirkan dan ditolak dan diungkapkan secara logis harus diterima bahwa yang ada itu ada.

    Dalam the way of truth, Parmenides bertanya: Apakah standar kebenaran? Bagaimana hal itu dapat dipahami? Lalu ia menjawab: “ukurannya adalah logika yang konsisten. Contoh: ada tiga cara berpikir tentang Tuhan (1) ada, (2) tidak ada, (3) ada dan tidak ada. Parmenides menganggap bahwa cara berpikir seperti sangatlah keliru, karena yang benar adalah: (1)ada,tidak menyakini yang tidak ada (2) sebagai ada karena yang tidak ada pastilah tidak ada (3) pun tidak mungkin, karena tidak mungkin tuhan itu ada dan sekaligus tidak ada.[6]


    [1] Lihat A history of Philosophy, Frederick Cpleston, hlm.48

    [2] Penjelasan ini diuangkapkan oleh M. Hatta dalam bukunya,”Filsafat Yunani,” hlm. 22-23

    [3] Dikutip dari,”petualangan intelektual”, Kanisus 2004, hlm. 25. Lihat bertens, hlm. 47

    [4] Coba bandingkan  pernyataan ini dengan monism epistemologis dan struktur pengetahuan (knowledge structure, knowledge situation), yang mengatakan bahwa subjek dan objek pengetahuan itu satu (tidak terpisah). Makan, pengetahuan seperti cermin atau dalam realism naïf terkenal dengan istilah mirror teory.

    [5] Bedakan “Tuhan itu tidak ada” dengan “Tuhan itu telah mati” (Gott is tott) yang dikatakan Fredrick Nietzsche dalam Sabda Zaratrustha. Lihat “petualangan intelektual” hlm.24

    [6] Logika ini sangat mirip –jika tidak kita katakan sama –dengan logika Aristoteles dalam prima principia yang memasukkan prinsip non-kontradiksi dalam bangunan logikanya. Misalnya, A tidak mungkin sekaligus B. Lihat “A history of philosophy,” hlmn. 48

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s