WAJAH ISLAM DALAM BINGKAI KEINDONESIAAN

jabat-tanganWAJAH ISLAM DALAM BINGKAI KEINDONESIAAN

By : Ahmad Muti’ul Alim

Indonesia merupakan negara penganut agama Islam terbesar di dunia. Sekitar hampir 88% penduduknya menganut agama Islam. Dengan jumlah yang besar itu, tentu umat muslim di Indonesia akan memiliki beragam cara dalam hal pensosialisasian nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melihat pertimbangan ini, maka tentu hal ini akan berimbas kepada bagaimana seharusnya Islam tersebut diaplikasikan di negara yang memiliki pluralitas suku, budaya dan berbagai ragam keunikan, seperti Indonesia. Berbicara tentang terma Islam keindonesiaan, tentu hal ini tidak terlepas dari wacana pengaruh-pengaruh luar terhadap eksistensi Islam itu sendiri.

Dalam ruang lingkup teologis, Islam yang berkembang di Indonesia dan di negara kebanyakan bisa dikatakan satu wajah. Akan tetapi ketika berbicara dalam tataran sosiologis, Islam memiliki berbagai hal yang bersifat pluralistik. Hal itulah yang membuat wajah Islam di Indonesia memiliki perbedaan dari negara-negara lain, yang tidak lain merupakan implikasi dari kesejarahan dan kemanusiaan dimana Islam tersebut ditafsirkan oleh para penganutnya. Seringkali, pembumian dan penanaman nilai-nilai Islam yang sesuai dengan bumi Indonesia menjadi topik hangat para pemikir zaman sekarang. Namun, bagai gayung tak bersambut, pemikiran-pemikiran seperti itu lambat laun mulai samar dan akhirnya menghilang. Sebenarnya hal tersebut bukanlah sebagai ironi atas segala pluralitas yang menyelimuti Islam di Indonesia, namun hal ini lebih ditekankan pada kerasnya dogma masyarakat umum terhadap Islam itu sendiri.

Pada tataran idealistik, Islam diturunkan sebagai agama samawi (langit) oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW membawa risalah berupa Alquran dan As Sunnah yang merupakan dogma dan doktrin atas Islam itu sendiri, sehingga tidak boleh ada pertentangan kepadanya. Dan dari sana timbullah sebuah keniscayaan bahwa Alquran dan As Sunnah memiliki kebenaran yang bersifat mutlak dan tak terbantahkan. Hal ini pula lah yang mendasari tentang kesakralan Alquran dan As Sunnah yang membuat sebagian kalangan tak pernah berfikir radikal terhadap keduanya.

Namun, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dogma-dogma yang kaku terhadap Islam dan Alquran khususnya tersebut, perlahan-lahan mulai memudar, seiring dengan berjalannya zaman yang sangat memerlukan interpretasi-interpretasi atau penafsiran yang lebih mendalam dan radikal terhadap Alquran. Bukan tanpa alasan, namun hal ini dilakukan untuk mengetahui tentang wilayah universalitas dari Alquran itu yang bersifat absolut (tidak bisa dirubah), dan wilayah universalitas Alquran yang bersifat relatif (debetable). Selain itu, juga bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai universalitas itu kedalam dimensi-dimensi masyarakat yang dibatasi oleh ruang-ruang sosiologis dan geografis.

Sejak awal perkembangannya, Islam di indonesia sudah menerima akomodasi budaya-budaya loka. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Islam di Indonesia disebarluaskan oleh para pedagang Arab, Gujarat dan Persia, melalui perdagangan. Sehingga mau tidak mau, akulturasi antara para pedagang dan masyarakat tidak bisa terhindarkan. Inilah yang kemudian menjadikan Islam begitu unik dalam segi budayanya. Oleh karena itu, Islam lebih banyak menyumbangkan norma-norma sosial didalam kehidupan masyarakat dibandingkan agama-agama lain. Kemudian jika dikaitkan dengan budaya, setidaknya ada dua hal yang berhubungan dengan Islam. Yaitu, pertama Islam sebagai konsepsi sosial budaya (Great Tradition) dan yang kedua adalah Islam sebagai relitas budaya (Little Tradition) atau Local Tradition.

Great Tradition atau tradisi besar adalah bentuk doktrin-doktrin Islam yang bersifat original dan permanen, atau setidaknya merupakan interpretasi yang kuat dan melekat terhadap ajaran Islam itu sendiri. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, doktrin ini mencakup konsepsi keimanan dan hukum-hukum syari’ah yang pada akhirnya menjadi pola pemikiran dasar umat Islam dalam bertindak.

Little Tradition atau tradisi kecil adalah realm of influence- kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Dalam ruang lingkup inilah kemudian Islam membentuk sebuah karakteristik tersendiri terhadap umat Islam.

Dari akulturasi yang dilakukan oleh Islam terhadap masyarakat, maka akan melahirkan apa yang kemudian disebut dengan Local Genius, yaitu kemampuan Islam untuk mengolah dan menyeleksi kebudayaan-kebudayaan asing untuk kemudian dijadikan bagian dari kebudayaan Islam. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya.

Seiring dengan membaurnya Islam ditengah-tengah masyarakat indonesia, Islam mampu memberikan sumbangsih yang begitu besar di berbagai aspek. Pluralitas yang tak terhindarkan sanggup menjadi tali pengikat dan penguat antara satu dengan yang lain. Namun dengan pluralitas itu pula, kemudian melahirkan 4 buah keberagaman Islam dalam hal karakteristik, yaitu hubungannya antara Islam dan keindonesiaan,

  1. Kelompok yang menerima Islamisasi dan menolak pengindonesiaan Islam

Kelompok ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Islam adalah wahyu dari Allah SWT, dan Indonesia beserta isinya adalah buatan manusia. Sehingga ada sebuah pernyataan bahwa Islam itu satu indonesia itu satu, keduanya bertentangan dan tidak bisa disatukan. Organisasi yang termasuk dari kelompok ini adalan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang mana didalamnya mereka menginginkan sebuah negara Islam dengan konsep khilafah. Mereka juga menolak UUD’45, Demokrasi, Pancasila, dan partai sekuler yang ada saat ini.

  1. Kelompok yang menerima Islamisasi

Kelompok yang mengusung ideologi ini adalah kelompok yang memperjuangkan Islam sebagai sistem yang komprehensif namun dalam konteks Indonesia yang majemuk secara budaya, agama dan ideologi. Yang termasuk dari kelompok ini adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS mengakui dan mengikuti proses demokrasi yang ada di Indonesia, menjadi partai politik, dan melakukan kompromi-kompromi pragmatis demi tercapainya Islamisasi.

  1. Kelompok yang hanya menerima Islam secara substantif

Yang tergabung dalam kelompok ini adalah kelompok yang menolak dogma yang kaku dalam pengaplikasian Islam, seperti masyarakat pada umumnya. Kelompok ini lebih menekankan pada aspek nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan hak, kesejahteraan, dan kesetaraan. Contohnya Jaringan Islam Liberal (JIL) yang mempromosikan demikrasi, hak-hak minoritas Non-Muslim dan Muslim, hak-hak perempuan dan kebebasan berpikir. Berbeda dengan HTI dan PKS, JIL mengkritik cara pandang Islam yang kaku dan tertutup dan anti pemikiran dan penafsiran rasional progresif.

  1. Kelompok yang menerima Islamisasi dan pengindonesiaan Islam

Kelompok ini dianggap mainstream, yaitu Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan masyarakat yang berkembang dari tradisi madrasah, pesantren, dan IAIN, UIN, STAIN dan PTAI lainnya. Muhammadiyah berorientasi pada masyarakat seperti pendididkan karakter, pengembangan IPTEK, dsb. Lahir dari kalangan ulama pesantren, NU mengemban visi misi  rhadap keIslaman Ahlussunah Waljamaah yang akomodatif terhadap budaya local seperti ziarah, tahlil, kepercayaan pada para wali, dsb.

Dari paparan di atas dapat kita mengerti, bahwa heterogenitas masyarakat, kekayaan budaya, keragaman sosial dan pluralitas agama yang dimiliki Indonesia tentu tidak akan menjadi harmoni dan ritme yang indah apabila Islam Indonesia tidak menekankan sikap moderat dan toleran.

Sifat dan sikap eklektik, fleksibel serta dinamis Islam Indonesia-lah yang akan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekuatan. Dan itu tidak akan terwujud apabila Islam Indonesia tidak mau memakai pendekatan yang original dan genuin bagi masyarakat muslim di Indonesia. Sebaliknya, apabila Islam Indonesia tidak ditampakkan dalam sikap dan sifatnya yang tidak genuin dan original Indonesia, yang intoleran dan eksesif-lah yang justru akan menghancurkan Indonesia dan umat Islam Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s