Force Me

menulis1Malam ini terasa sama saja dengan malam-malam yang lain. Entah sudah berapa tulisan yang ku coret, karena pikiranku yang agak buntu. Tugas artikel yang akan dikumpul sabtu pagi pun masih utuh,kosong. Sangat sulit untuk menemukan kata-kata dalam pikiranku saat ini. Aku pun tidak tahu mengapa hal ini selalu saja terjadi padaku. Apakah aku kurang membaca? Ah bisa saja, kan akhir-akhir ini aku selalu berkutat pada Winning Eleven 9 yang menjadi game favoritku. Meski aku sendiri berdalih pada diriku, bahwa bermain game bisa me-refresh otakku yang agak lelah. Oleh karena itulah, saat hari menjelang sore ditengah perjalananku menuju asrama, aku merenung.

“Kemarin ketika pelajaran Pancasila, aku dihadapkan dengan film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang Soe Hok Gie. Ia tidaklah lahir dari keluarga yang besar. Tapi dengan sifat sederhana dan teliti, serta sikapnya yang responsif terhadap situasi NKRI saat itu, mampu membuatnya bangkit atas ketidaksadarannya dan membangun ideologi untuk dirinya dan orang-orang yang mendukungnya, untuk bangkit dari kekejaman pemerintah. Sehingga atas tindak-tanduknya, namanya pun mulai melambung.
Namun ada hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih khusus, bahwa ia tidak melakukan semua itu langsung secara sekejap tanpa proses. Mulai dari sekolah tingkat dasar. Ia sudah terbiasa dengan membaca dan menulis. Ia selalu mencatat hal-hal yang bersifat penting di dalam buku harian yang dibawanya kemana-mana. Baik itu melalui buku yang baru ia baca, koran, serta kejadian-kejadian yang ia dapatkan di lingkungannya sendiri. Dari kegiatannya itu, ia mulai untuk menulis, dan memuat tulisannya di media cetak. Alhasil, karena tulisannya yang mempunyai bobot dan patut diperhitungkan, namanya mulai rutin menghiasi wajah media cetak dengan berbagai pandangannya tentang pemerintah.
Aku berfikir, sepertinya aku juga harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Soe Hok Gie. Apa yang telah dilakukannya, telah mengubah jalan cerita dalam hidupnya. Ya, membaca telah membuat hidupnya terangkat dari derajat keterpurukan. Membaca telah membuat argumentasi-argumentasi yang terlontar dari mulutnya terdengar meyakinkan. Dari sana aku mulai berfikir, bahwa aku pun bisa melakukan hal yang sama, jika aku mampu keluar dari akar-akar kemalasan yang saat ini tengah melilitku. Aku memang harus mulai rajin membaca dan menulis, meski terpaksa dan harus memulainya dari hal-hal yang kecil, sampai aku bisa membuat diriku butuh akan membaca dan menulis itu sendiri.

Oleh karena itulah, mulai malam ini kutanamkan slogan dalam hatiku, yaitu, “Baca, dan catatlah hal yang dapat kau lihat hari ini!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s