Internet Dan Dunia Yang Flat

internet-marketing-strategy-traffic1Seperti biasa, hari Sabtu siang aku kembali menerima artikel dari dosen bahasa indonesia. Kali ini judulnya menggelitik hatiku untuk membacanya. “ Internet Bikin Kita Dangkal? ” begitulah judul yang tertulis disana. Waw… judul yang hebat. Semakin membuatku penasaran dengan apa yang akan dipaparkan penulis di dalam artikel tersebut. Sebelum aku membacanya, seperti biasa aku akan menebak isinya melalui judul yang tertera pada artikel tersebut. Tapi, kali ini aku buntu. Judulnya terlalu menimbulkan kontroversi di dalam benakku. Apa yang dibuat dangkal oleh internet? Pemikirankah? Atau mungkin perasaankah? Ahhh.. dari pada aku tengelam pada judul, yang kemudian membekaskan panah-panah distorsi pada otakku, lebih baik aku selami dulu lautan kata-kata yang ada di tanganku saat ini.

Ku tenangkan fikiran, fokus, konsentrasi, dan kunikmati sayup-sayup alunan musik yang mengalun lewat headphone yang terpasang di telingaku saat ini. Sekuat tenaga ku ubah dimensi saat ini menjadi sebuah dimensi yang meditatif. Waktu akan kuhentikan sejenak untuk mendengarkan bisikan kata yang terlontar dari mulutku. Sesaat kemudian, aku telah selesai dan menangkap apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepadaku. Sebelumnya, artikel ini ditulis oleh Putut Widjanarko, nama yang tidak terlalu asing di telingaku. Ku coba mengambil handphone yang sengaja ku letakkan disamping ku, dan mengetikkan nama Putut Widjanarko tersebut di google, siapa tahu aku bisa mengenal siapa orang yang dimaksud di dalam artikel ini. Dan dari hasil browsing tadi aku mendapatkan dan mengetahui bahwa “Putut Widjanarko” adalah salah satu staf Mizan Publishing yang memiliki jabatan sebagai vice presiden operation. Wah.. mungkin orang ini yang dimaksud dalam artikel ini.

Kang Putut menuliskan, jika dilihat dari fakta-fakta yang ada di lapangan dan yang pernah terjadi pada beberapa penulis menunjukkan, bahwa internet memiliki pengaruh yang tidak baik terhadap perkembangan otak dalam menerima informasi. Hal ini juga didukung oleh pengamatan secara online -secara online, terhadap dua situs yang populer dalam melakukan riset, mendapati bahwa banyak orang yang menggunakan dua situs tersebut untuk melakukan riset. Situs tersebut dimiliki oleh British Library dan yang satunya adalah milik sebuah konsorsium pendidikan. Dari statement ini aku mendapakan bahwa masih banyak orang yang memiliki ketergantungan terhadap internet, lebih-lebih untuk urusan riset atau penelitian.

Selain penelitian tersebut, ada pula dukungan dari buku yang diluncurkan oleh Sven Birkerts yang berjudul, The Gutenberg Elegies : The Fate of Reading in an Electronic Age (1994), yang menyatakan bahwa seseorang perlu menciptakan sebuah suasana hening, ketika sedang menyelami kata-kata yang sedang diterjemahkan dari tulisan ke otaknya, yang tidak lain untuk memperoleh makna yang singkat namun mencakup keseluruhan, dan cukup aman tersimpan dalam memorinya. Jadi secara sederhananya, bagaimana aku bisa memperoleh makna dan kata-kata dari tulisan yang telah aku baca melalui sebuah dimensi waktu yang meditatif atau terpusat pada satu perhatian hingga seolah-olah waktu berhenti.

Ku akui tentu keadaan tersebut kini berbeda jauh dengan zaman pra-internet. Sebelum internet ada, orang-orang lebih suka menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku, dan melewatkan semuanya dalam suasana hening dan penuh perenungan untuk mendapatkan sejuta makna dari apa yang telah dibacanya. Dan ketika hendak melakukan penelitian atau riset, orang butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari buku, keluar masuk perpustakaan dalam rangka mencari referensi yang diperlukan. Tapi, kini semua itu hanyalah metode yang menghabiskan banyak waktu. Setelah internet muncul, setiap orang bisa mengakses berbagai informasi yang ia inginkan. Apapun itu, hanya dengan menuliskan beberapa kata kunci pencarian di kotak search engine, semuanya akan muncul dalam beberapa detik. Belum lagi jika pengguna membuka beberapa Tab atau pun Window, mereka bisa sesukanya lompat sana lompat sini untuk membaca isi dari sebuah website atau pun blog.

Hal inilah kemudian menimbulkan kekhawatiran para pejuang pena. Ada sebuah sisi buruk yang akan ditimbulkan, ketika seseorang selalu mengandalkan internet untuk membuat segalanya lebih praktis. Deep reading yang dikonsep sedemikian rupa oleh para pejuang pena tersebut, sepertinya akan sia-sia, ketika orang lebih menyukai membaca di internet dengan cara lompat sana lompat sini tadi. Hal inilah yang dirasakan oleh Nicholas Carr, setelah ia sadar dan memperhatikan lebih dalam, bahwa dalam beberapa tahun terakhir ia merasakan kehilangan gairah dalam membaca buku, setelah asyik meluncur kedalam dunia internet. Bahkan ia mengatakan bahwa internet telah membuat kemampuan berkonsentrasi dan berkotemplasinya menjadi kacau.

Sebenarnya sebuah perkembangan teknologi literasi pasti akan menimbulkan sebuah efek negatif dan positif. Ketika buku muncul pun, banyak para pemerhati yang menyatakan bahwa buku itu tidak baik, karena melatih otak untuk bermalas-malasan. Mereka menganggap, berfikir dan merenungi sesuatu yang sudah pasti, kemudian mengingatnya di otak jauh lebih baik daripada membuat buku. Jadi dari sini, wajar saja jika para pejuang pena kemudian menyalahkan internet sebagai otak dibalik penurunan capabilitas manusia. Tapi tentu aku tidak setuju dengan pernyataan itu. Karena mereka tidak bisa melihat semua itu secara universal seperti itu. Masih banyak yang melakukan deep reading melalui internet. Terkadang aku pun mencatat hal-hal menarik yang bisa aku raih manfaatnya dari internet. Contohnya ketika aku mencari siapa Putut Widjanarko tadi. Jika aku harus mencari buku yang berkaitan dengan beliau, maka besar kemungkinan tugas ini tidak akan selesai. Jadi, bisa dikatakan peran internet sungguh sangat vital di tengah zaman globalisasi seperti ini. Dan aku sangat setuju dengan apa yang dituliskan oleh Kang Putut pada akhir artikel yang menyatakan, bahwa perubahan pola deep reading yang diterapkan para ahli tidak akan hilang, namun caranya saja yang akan berubah. Yaitu cara deep reading yang singat, namun menghasilkan cakrawala pengetahuan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s