Makna Kata-Kata Itu

kata-kata-mutiara-perpisahanPerhatikan cuplikan cerita berikut!

Seorang anak yang baru memasuki usia SMA, baru saja mendapatkan sebuah hadiah buku baru dari kedua orang tuanya. Sang anak pun dengan berbahagia dan antusias menerima buku tersebut, selain karena buku tersebut terbatas peredarannya di pasaran, juga karena buku tersebut memang buku yang sangat dia inginkan, dan dengan harapan, ia dapat mempresentasikan isinya didepan guru dan teman-temannya pada saat presentasi besok. Ia pun berniat untuk memulai membacanya. “Mendapatkan Seribu Makna Dari Membaca”, begitulah judul yang tertera pada cover buku yang berada di tangannya. Ketertarikannya pun membuat jemarinya lancar untuk mulai membuka satu demi satu lembaran buku tersebut. Akhirnya dalam hitungan jam, ia sudah bisa menyelesaikan bacaannya. Betapa senangnya ia dengan semua yang telah ia lakukan pada saat itu.

Dengan percaya diri ia mengatakan dalam hatinya, bahwa ia siap mempresentasikan apa yang telah ia baca itu kepada guru dan teman-temannya.

Waktu berputar cepat. Ia pun sudah tidak sabar untuk mempresentasikan isi dari buku yang baru saja ia baca itu. Sikap dan antusias yang sama pun terlihat dari raut wajah teman-temannya dengan buku-bukunya yang telah mereka baca. Seakan banyak kata dan makna akan keluar dari diri mulut mereka, dan siap dengan berbagai pertanyaan yang akan muncul, baik dari guru mata pelajaran, maupun teman-teman yang lain.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Beberapa temannya yang maju ke depan kelas pun sudah mempresentasikan apa yang telah mereka baca. Tidak sedikit dari mereka yang menyerah dengan berbagai pertanyaan dari guru maupun dari teman-temannya. Dan kini tibalah giliran anak itu untuk maju kedepan kelas. Satu demi satu kalimat awal dengan lancar bisa ia ucapkan. Tapi beberapa saat kemudian dia mulai lupa, bahkan akhirnya tidak ingat sama sekali dengan kelanjutan isi dari buku tersebut, hanya beberapa kalimat tidak penting yang bisa dia ingat. Dia pun hanya bisa berbicara terbata-bata dan mengucapkan satu dua kata yang tidak jelas apa maknanya. Melihat keadaan seperti itu, kemudian sang guru pun menyuruhnya berhenti melakukan presentasi dan mulai ke sesi pertanyaan dan menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan buku tersebut untuknya. Dua pertanyaan pertama bisa ia jawab, tapi selanjutnya dia hanya bisa bingung dan menggaruk-garuk kepala. Dia tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal ia sendiri telah merasa yakin dan mengerti dengan apa yang dituliskan didalam buku tersebut. Yang pada akhirnya ia kembali ketempat duduknya dengan perasaan kecewa.

Pertanyaannya, pernahkah anda mengalami hal seperti cerita diatas? Menurut saya, 80% orang akan mengatakan iya dan pernah mengalami hal seperti itu. Mengapa hanya 80% dan bukan 100% ? jawabanya, karena 20% orang sudah tahu bagaimana trik mengatasi gejala seperti diatas. Dimulai dari yang 80%, kebanyakan rata-rata orang membaca hanya sekedar membaca saja, tidak memperhitungkan dari segi makna yang didapat. Dan banyak pula orang yang ingin mendapatkan makna dan isi dari bacaannya, malah tidak mendapatkan apa-apa kemudian setelah menyelesaikan bacaannya. Atau ketika beberapa hari kemudian ia disuruh mengatakan dan mengingat kembali apa yang telah ia baca, orang tersebut lupa, bahkan parahnya lagi dia ingat satu kalimat pun dari buku yang pernah ia baca. Lantas ia simpan dimana ingatan tentang isi buku tersebut? Atau apakah ia tidak memperoleh apa yang ia inginkan? Saya rasa tidak, jika ia mengikuti apa yang telah diketahui dan dilakukan oleh 20% orang yang lain. Apa itu? Sepertinya anda tidak akan bingung menjawab pertanyaan ini ketika anda mengetahui kata-kata dari Ali bin Abi Thalib r.a yang berbunyi, “ Ikatlah ilmu dengan menuliskannya “. Jelas bukan? Atau anda masih bingung juga? Wah sepertinya anda harus belajar banyak tentang mengikat makna dari sebuah kata-kata. Baiklah akan saya beri anda modal kesuksesan dalam membaca.Permasalahan yang muncul pada cerita diatas adalah mengapa ingatan si anak tentang isi bacaan yang telah ia baca tadi begitu mudah hilang. Padahal kemauan yang keras sudah ia jadikan modal saat buku tersebut ia peroleh. Kemauan keras untuk mengetahui maknanya. Apakah kemauan saja sudah cukup? Jawabanya adalah, TIDAK. Karena meskipun kegiatan terpenting didalam belajar, atau membaca khususnya kita dituntut untuk mengingat. Maka sekarang permasalahan yang akan timbul adalah bagaimana dengan orang yang sudah berumur diatas 40-an yang ingatannya sudah sedikit berkurang? apakah ia tidak perlu tahu rahasia sukses membaca ini? Sekali lagi jawabannya tentu tidak. Karena metode mengingat tidak sedangkal yang anda fikirkan. Seperti kata-kata mutiara yang berasal dari Ali r.a tadi. Ketika anda membaca, anda harus mengikat apa yang anda peroleh tentang bacaan yang anda baca tadi, dengan menuliskannya. Atau anda bisa menggunakan kata-kata dari riset seorang Dr. Stephen D Krashen, bahwa kemampuan menulis berasal dari membaca. Yang secara sederhananya, adalah pengkonsepan dari Mengikat makna. Kalau anda ingin langsung mendapatkan efeknya, cobalah lakukan intruksi saya. Anda ambil buku yang menurut anda, anda menikmati buku tersebut. Baca dan tulislah hal-hal yang anda rasa penting untuk dicatat. Karena disanalah kita bisa mengikatnya. Lakukanlah hal ini secara rutin, dan Insya Allah anda akan menikmati bacaan anda, hingga anda akan mendapatkan makna yang lebih mendalam dari cara yang anda lakukan sebelumnya. Berhubungan dengan hal ini, cara yang telah saya tuliskan telah dilakukan Hernowo jauh dari sebelum anda membaca tulisan saya ini. Dari lembaran yang pernah saya baca, beliau seperti mendapatkan ilham setelah membaca kata-kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib tadi. Sepertinya itu sudah cukup menjadi sebuah mantra sihir yang melecut dan membangkitkan semangatnya untuk mendalami sebuah makna yang terangkai dari ribuan hingga jutaan kata-kata. Belum lagi kata-kata dari riset Dr. Stephen D Krashen yang telah saya sebutkan diatas, membuat beliau semangat untuk aktif dalam dunia baca tulis. Hingga dalam usia 44 tahun bisa membuat dan menyusun 24 judul buku dalam rentang waktu 4 tahun, yaitu pada tahun 2001-2005. Menakjubkan bukan? Kalau beliau yang sudah berusia uzur saja bisa, mengapa kita tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s