Mau Pinter Kok Praktis?

5fb2f75febb742fc17e2c343b26b3d2db924a0c9Hampir semua orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, tentu tidak asing lagi dengan kata-kata seperti: skripsi, karya ilmiah, tesis, desertasi, dan lain-lainnya. Dan setiap pelaku pendidikan pun mau tidak mau harus bergulat dengan hal-hal tersebut, sebelum akhirnya mereka bisa diakui oleh khalayak. Dan untuk melewati tahap demi tahap hingga dapat menghasilkan hal-hal di atas pun perlu perjuangan yang sangat rumit. Jadi bukanlah sebuah hal yang mengherankan jika kemudian hasil yang diperoleh melalui metode-metode yang benar, akan mendapatkan sebuah kepuasan dan penghargaan tersendiri bagi pelaku pendidikan tersebut.

Tapi ada satu hal yang patut bin wajib mendapatkan perhatian lebih lanjut, yaitu mengenai masalah kejujuran. Karena, meskipun tesis, skripsi, karya ilmiah, dan lain-lainnya sudah menjadi bagian yang sangat vital dari setiap pelaku pendidikan, ternyata toh masih ada saja sejumlah oknum yang menggunakan cara-cara yang licik untuk menghasilkan karya-karya tersebut secara instan. Ya, salah satu metodenya adalah dengan cara mem-plagiat karya orang lain. Mereka yang menggunakan metode yang buruk ini tidak mau bersusah payah untuk melakukan penelitian, dalam rangka menghasilkan karya yang original dari dalam diri mereka sendiri. Karena dengan mem-plagiat karya orang lain yang notabene berasal dari pemikiran yang original maupun memang karya hasil plagiarisme, segalanya akan menjadi lebih mudah. Selain waktu pengerjaan yang singkat, sang plagiator akan mendapatkan apresiasi dari orang yang awam akan hal ini.

Perlu kita cermati, bahwa tindakan plagiarisme mengundang keruntuhan sendi-sendi kehidupan manusia. Karena jika hal ini terus-menerus dikembang-biakan, maka pemikiran yang original akan musnah dari dunia ini, dan daya kreativitas akan merosot jauh dibawah batas kewajaran. Bagaimana tidak, ketika segelintir orang mulai bertindak nakal dengan melakukan tindakan plagiarisme, lalu mereka merasa sangat nyaman dengan itu semua karena keuntungan yang didapat, bukan tidak mungkin satu demi persatu orang akan mulai mencoba, hingga akhirnya harus terjebak di dalamnya. Inilah hal yang patut kita beri perhatian lebih khusus, jika kita tidak ingin dunia ini rata dengan pemikiran-pemikiran palsu dan topeng-topeng plagiator yang haus akan kehormatan duniawi.

Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah semua ini. Mereka yang sudah berhasil menuangkan karya originalnya dalam bentuk tulisan seperti skripsi, tesis maupun karya ilmiah pun telah belajar banyak hal yang membuat mereka dapat mengantisipasi tindakan plagiat, yang notabene dapat menghancurkan harga diri mereka sendiri. Mereka pun dulunya pernah mengalami kesulitan untuk menghasilkan karya yang benar-benar original dari dalam diri mereka sendiri. Tapi perlahan, tahapan demi tahapan, mulai dari menambah pembendaharaan kata melalui membaca, kemudian sedikit demi sedikit menuliskan apa yang telah mereka dapatkan dari membaca tersebut untuk kemudian mengembangkannya, dan mulai mengkonstruksikan semuanya menjadi sebuah tulisan yang benar-benar berbobot. Walaupun terkadang pada akhirnya hasilnya kurang memuaskan, tapi hal tersebut tetap patut dihargai, karena lahir dari sebuah orisinalitas, bukan dari hasil penjiplakan yang tidak pernah berujung.

Selain dari tahapan-tahapan tersebut, ada kiranya kita memperhatikan satu aspek yang kiranya sangat penting dalam permasalahan ini, yaitu masalah kejujuran. Aspek yang satu ini sangat perlu ditekankan untuk menjadi pondasi awal, dan menjadi pagar yang bisa menggiring kita untuk tidak melakukan hal-hal yang pada akhirnya dapat merugikan orang lain. Kita mungkin akan susah untuk membuat setiap orang secara spontan untuk berhenti dari tindakan plagiarisme ini, namun kita bisa mulai dari merubah diri kita untuk tidak melakukan tindakan tersebut. Sehingga ketika kita sudah bisa menunjukkan kepada orang-orang, bahwa karya yang benar-benar original dari diri kita itu menghasilkan karya yang luar biasa, maka besar kemungkinan akan terbesit sedikit keinginan untuk terlepas dari belenggu-belenggu plagiarisme yang sebelumnya sudah mengakar dalam diri mereka masing-masing. Jadi, mulailah iqra’ untuk menyirami potensi-potensi yang tertanam dalam diri kita, untuk kemudian berjuang untuk menumbuhkannya, sehingga pada saatnya nanti kita akan menuai buah kesuksesan yang lahir murni dari dalam diri kita sendiri. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s