Mengelola Pengetahuan

aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzI2NTIzMzA1XzVwSzRTc2duLmpwZw%3D%3DSebuah artikel yang sangat menarik yang baru saya baca. Diawali oleh statement DAVE MEIER didalam bukunya Accelerated Learning Handbook dikatakan bahwa pembelajaran yang sungguh-sungguu dalam tempo waktu tertentu dapat memberikan hasil yang maksimal. Karena dengan waktu yang diberikan kepada pembelajar, maka otaknya dapat mengolah hal-hal baru tersebut, sehingga ada hal yang melekat yang bisa didapati didalam dirinya.

Setiap pengajar memiliki strategi dan konsep masing-masing dalam menghadapi proses belajar-mengajarnya. Namun dari catatan ini, saya mendapatkan sebuah konsep yang luar biasa. Disini ada sebuah penggambaran bahwa proses belajar mengajar yang diibaratkan dengan orang yang sedang menuangkan air kedalam cangkir dan yang lain menuangkan air ke sebuah tanaman. Gambaran tentang cangkir diibaratkan dengan seorang pelajar atau murid yang sedang belajar. Sementara itu, guru diibaratkan sebagai sarana penuang air. Dan air itu sendiri diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan yang akan diberikan kepada pelajar. Ada dua buah opsi yang dapat digunakan sang guru dalam proses belajar-mengajarnya. Pertama proses belajar-mengajar yang diibaratkan orang yang sedang menuangkan air kedalam cangkir, yang berarti bahwa guru memberikan materi atau pengetahuan kepada pelajar atau murid hanya sebatas pengajaran tanpa memberikan suatu rangsangan yang bisa membuat murid tersebut berkembang dengan materi atau pengetahuan-pengetahuan tersebut. Jadi ketika murid tersebut ditanya atau di tes ulang, maka murid tersebut hanya mampu menyebutkan atau menjelaskan seperti apa yang diberikan oleh gurunya tanpa mengembangkannya, atau bisa kita sebut “membeo”. Yang kedua yaitu proses belajar-mengajar yang diibaratkan orang yang sedang menuangkan air ke sebuah tanaman, yang berarti bahwa guru memberikan sebuah materi atau pengetahuan kepada murid yang disertai dengan rangsangan-rangsangan yang membuat murid tersebut mengembangkan pengetahuan yang didapatnya. Jadi dengan konsep ini, murid tidak hanya menerima, tapi mereka akan mengolah sedemikian rupa menurut apa yang mereka butuhkan. Tapi pertanyaannya siapakah yang berperan penting untuk menetukan murid tersebut berperan sebagai cangkir atau sebagai tanaman? Tentu saja sang guru, sebab mereka yang memiliki pilihan untuk menentukan apakah nantinya mereka akan memakai konsep menuangkan air kedalam cangkir atau konsep menuangkan air ke tanaman. Jadi bagi guru yang ingin menuai hasil terbaik untuk muridnya, mereka akan memberikan waktu untuk mencerna sedikit demi sedikit dari ilmu yang telah diberikan, sehingga siswa dapat mengolah dan mengaitkan pengetahuan yang didapat dengan pengalaman dari dirinya ataupun pengetahuan-pengetahuan lain yang ia dapat sebelumnya. Setelah guru menerapkan konsep tersebut, sekarang tinggal tugas murid untuk mengolah bagaimana ilmu tersebut dapat bermanfaat untuknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s