Teu Plagiarisme Wae

menulis1Sebelumnya aku akan bercerita terlebih dahulu, bahwa pada hari ini, dari sebuah artikel yang seperti biasa dibagikan dosen bahasa indonesia, aku mendapatkan sebuah pelajaran yang sedikit bermakna tentang copy-paste dan plagiarisme. Mengapa hanya sedikit? Karena dari artikel tersebut secara keseluruhan, masih ada hal yang mengganjal dan menimbulkan beribu pertanyaan di benakku. Sebelum masuk lebih jauh, aku harus bertanya pada diriku sendiri. Apa itu copy-paste dan plagiarisme? Apakah sama copy-paste yang selama ini ada di laptop atau komputer ketika aku meng-klik kanan pada mouse, dengan copy-paste yang dimaksud di dalam artikel ini? Aku rasa hampir tepat. Ketika aku harus memberikan makna pada diriku sendiri tentang apa itu plagiarisme, aku mengarahkan kursor pada laptopku mengarah kepada sebuah software Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ketika aku menginput kata “plagiarisme”, hasil menunjukkan bahwa plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. Waw.. Jadi jika hal ini aku kaitkan dengan isi artikel yang dibagikan oleh dosenku tadi pagi, maka aku akan menjadi sedikit jelas.

Baiklah. Plagiarisme berawal dari sebuah aktivitas copy-paste, yaitu ketika kita menyalin pendapat, tulisan atau karya orang lain, tanpa menyebutkan atau mencantumkan sumber dari mana kita mendapatkannya. Dari berbagai pertanyaan yang di ajukan oleh mahasiswa Sadra saat mata kuliah tentang copy-paste dan plagiarisme ini berlangsung, aku mengutip sedikit statement dari seorang mahasiswa, bahwa copy-paste dan plagiarisme merupakan kejahatan intelektual nomor satu di dunia. Sudah banyak sekali kasus-kasus yang kita temukan terkait dengan tindakan plagiarisme ini, yang awalnya hanya copy-paste melalui buku, artikel, maupun internet.

Di zaman serba praktis seperti sekarang ini, banyak sekali orang yang terjebak dalam praktek plagiarisme. Terutama melalui internet. Internet menyediakan berbagai informasi dan materi yang bisa dibaca dan di ambil setiap saat. Contohnya, aku selalu mengikuti perkembangan sepak bola di website www.goal.com , dan jika ada hal yang menarik aku tinggal mem­-blok isinya kemudian klik kanan pada mouse, aku pilih “copy” dan memindahkannya di dokumen dengan kembali klik kanan pada mouse dan memilih ”paste”, informasi tersebut secara otomatis telah tersimpan di dalam laptopku.Gampang kan? Ya, kurang lebih seperti itulah tindak-tanduk orang-orang yang terjebak dalam praktek plagiarisme ini.

Sadar atau pun tidak, ternyata praktek plagiarisme ini sangat berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Bagaimana tidak, ketika kita terus menerus menjiplak karya orang lain, secara tidak langsung kita akan kehilangan orisinalitas yang sebelumnya selalu melekat pada diri kita.Karena jika virus plagiarisme itu sudah tidak terkendali, maka kapan pun dan dimana pun kita akan mengeluarkan sesuatu, hasil dari tindak plagiarisme itu sendiri. Sungguh sangat disayangkan, mengingat zaman masih memerlukan karya-karya orisinal berasal dari pemikiran kita, untuk memainkan ritme kehidupan yang semakin kompleks.

Jika ada yang bertanya mengapa aku mengambil judul seperti di atas, jawabannya masih terkait dengan praktek plagiarisme ini. Saat ini, banyak sekali civitas akademikayang terjebak dalam plagiarisme, khususnya siswa dan mahasiswa. Melalui internet, mereka bisa menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan oleh para guru maupun dosen secara instan. Baik itu makalah, karya ilmiah, maupun PR harian. Dengan hanya menuliskan keyword yang diinginkan pada “search engine”, maka website yang bersangkutan akan menawarkan begitu banyak informasi yang diinginkan oleh pengguna. Maka dari sana, hanya tinggal memilih dan meng-copy saja materi yang diinginkan tanpa memperhatikan dan mencantumkan dari mana sumbernya. Menurutku, mungkin dari 10 orang, 7 diantaranya akan memilih untuk menggunakan website “google” sebagai sarana untuk mencari informasi yang diinginkan oleh yang bersangkutan. “google” memang selalu jadi pilihan utama dalam hal pencarian informasi. Ia tersambung dengan ribuan bahkan jutaan blog yang menyediakan berbagai macam konten. Tidak peduli itu hasil plagiarisme, atau pun hasil pemikiran yang orisinal dari seseorang.

Nah, jika praktek copy-paste terus di budayakan, maka bukan tidak mungkin orang-orang akan menerbitkan artikel, buku, maupun karya lainnya yang itu berasal dari copy-paste yang sudah membudaya dan menjamur, dan lebih parahnya lagi ia tidak mencantumkan sumbernya, seakan-akan itu adalah pendapatnya. Dan jika demikian, maka lama kelamaan dunia ini akan seragam dengan hasil plagiarisme itu.Aku sempat membayangkan, jika aku adalah pemilik google, maka aku akan mencegah praktek ini sebisa mungkin. Mungkin saja aku akan membuat software pengintai online, yang mencegah praktik ini agar tidak terus berlanjut. Dan akan aku wajibkan para blogger untuk mencantumkan hasil dari orisinalitas pemikiran mereka, bukan hasil menjiplak. Dan untuk orang yang ingin copy-paste, aku pastikan mereka tidak akan bisa meng-copy-paste begitu saja, karena format yang aku sediakan akan berbeda dari sebelumnya. Aku ingin semua orang menghargai pemikiran yang diciptakan secara orisinal.

Sampai disinilah kira-kira apa yang aku dapatkan hari ini melalui artikel dan diskusi di kelas. Meski aku begitu lancar menuliskannya, aku memiliki beberapa pertentangan tersendiri terhadap artikel ini. Pertama, jika plagarisme adalah kejahatan intelek, maka bagaimana aku bisa mendapatkan atau pun mengambil sumber pengetahuan yang bisa aku manfaatkan? Aku masih butuh buku, artikel, dan internet. Aku masih membutuhkan semuanya sebagai Tool box dalam otakku. OOOh ternyata agar tidak terjebak dalam praktek ini, aku harus mencantukan sumber dimana aku mendapatkannya. Tapi, apakah mungkin aku untuk mengingat semuanya secara keseluruhan? Lalu bagaimana dengan informasi yang tidak mencantumkan siapa sumbernya, sedangkan aku sangat membutuhkannya? Apakah aku akan selalu terjebak dalam praktek ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s