Writer’s Block? Toolbox?

mikirBagi sebagian orang, mungkin istilah-istilah diatas masih terdengar cukup asing. Apa itu Writer’s block, Tool box, dan Free Writing? Hal yang sama pun mungkin akan terjadi padaku, jika aku tak pernah bertatapan dengan artikel yang sungguh telah menyadarkan aku dari paradigma tulis-menulis yang selama ini aku tancapkan jauh dibawah alam sadarku. Namun, kini aku ibarat tanaman kecil yang baru saja mendapatkan setetes air yang mampu memanjangkan batang dan merimbunkan daunku.

Sebelumnya, menulis bagaikan momok yang begitu menakutkan bagiku. Aku selalu terbayangi oleh hal-hal yang membuatku menghentikan deru laju pena, yang telah melesat diatas kertas putihku. Dan hal itu pun tak perlu aku cari jauh-jauh pembuktiannya. Detik ini pun, aku masih mengalami beberapa kebuntuan, terkait penyusunan kata-kata yang akan aku gunakan untuk menyelesaikan tugas ini.

Aku harus diam sejenak bahkan agak lama untuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan kata-kata yang sebelumnya telah tersusun di kertas ini. Dan aku rasa hal inilah yang sering dirasakan oleh penulis-penulis yang akan menuangkan gagasannya kedalam tulisan, dan itu berarti aku tidak sendirian menghadapi masalah ini.

“ Writer’s Block ” adalah suatu keadaan dimana kita mengalami kebuntuan sejenak, dan terkadang bingung untuk menulis apa lagi untuk menyambung atau melanjutkan tulisan yang telah kita tulis, atau yang biasa Aku sebut dengan otak lagi mogok mikir. Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena dua faktor, yaitu faktor teknis dan faktor non-teknis. Faktor teknis yang sering terjadi saat seseorang sedang menulis adalah, ketika ia sedang menulis, beberapa saat kemudian ia merasa tak dapat lagi menuangkan lagi kata-kata dalam fikirannya dalam bentuk tulisan, atau seketika itu ia merasa blank. Nah pada saat itu terjadi, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan “ free writing “ atau mencoba menuliskan apa saja alias bebas. Bisa saja kemudia mencoba mengawalinya dengan menuliskan salah satu benda yang ada disekitarnya, yang mungkin dari sana akan timbul gesekan-gesekan gagasan baru.

Jika faktor teknis dapat diantisipasi dengan teknik-teknik menulis, maka untuk faktor non-teknis tidak dapat di selesaikan dengan faktor-faktor teknis tadi. Faktor non-teknis biasanya lebih rumit untuk dipecahkan, karena ia menyangkut sebuah keadaan yang berasal dari diri penulis itu sendiri, atau bisa dikatakan sulit untuk dirumuskan. Contohnya saja, pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak kita, Bagaimana aku bisa menemukan gagasan yang lebih hebat dari sekarang? Atau mungkin Tulisanku bagus nggak ya? Dan berbagai pertanyaan yang pernah mengisi ruang tanya jawab di dalam fikiran kita. Aku secara pribadi pun terhitung sering dihinggapi pertanyaan-pertanyaan tadi. Terkadang juga aku merasakan betapa membosankannya menulis kata demi kata yang harus aku rangkaikan menjadi sepotong kalimat, yang kemudian harus terbentuk sederet paragraf-paragraf yang mengisi setiap lembarnya.

Memahami “ writer’s block “ adalah salah satu harta berharga yang kemudia bisa digunakan penulis untuk mengembangkan tulisannya. Jadi sebenarnya masalah-masalah diatas memang lumrah terjadi di kalangan penulis, hanya saja setiap penulis memiliki jurus jitu untuk menaklukannya. Sedangkan untuk menulis mencicil yang sering terasa sangat membosankan itu sendiri merupakan hal yang wajar, karena menulis mencicil satu demi satu lebih baik daripada menulis yang terburu-buru, yang nantinya akan menghasilkan tulisan yang kurang begitu baik. Dengan menulis mencicil, penulis dapat menemukan alunan gagasan dengan ritme yang khas, dan akan menumbuhkan rasa percaya diri yang lebih dalam dirinya.

“ Tool box ” adalah satu dari beberapa unsur yang harus dipenuhi oleh penulis. Sebab tanpanya, penulis akan menemukan berbagai kesulitan dalam kegiatan tulis-menulisnya. Istilah tool box sendiri aku temukan di dalam artikel yang dibagikan dosen bahasa indonesiaku di kampus. Disana tertulis bahwa, istilah tool box ditemukan oleh Stephen King dalam bukunya On Writing pada halaman 145. Ia mengatakan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik, anda harus memiliki tool box atau “ kotak perkakas ” dan kemudian mengerahkan tenaga untuk mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, adalah anda hilangkan fikiran negatif yang bisa menghalangi aktivitas anda tersebut, dan mulai untuk mengambil peralatan yang tepat dan langsung bekerja.

Dari pernyataan di atas, perlu digaris bawahi bahwa kotak perkakas yang dimaksud King adalah kosakata atau menurut Hernowo adalah kekayaan bahasa. Bisa saja seseorang yang memiliki beribu teknik dalam menulis, namun ia tidak memiliki kekayaan bahasa yang memadai,tentu ia akan menemukan kesulitan didalam merumuskan dan menyusun gagasannya. Dan tentu saja caranya adalah banyak membaca teks-teks yang “bergizi” atau yang sarat makna. Selain dari pemenuhan kosakata, Hernowo menambahkan bahwa tool box harus diisi dengan mengikat makna dan pemetaan pikiran (mind mapping). Untuk mengikat makna itu sendiri sudah pernah dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya, sedangkan untuk mind mapping adalah sebuah cara untyk mengembangkan ide dan menemukan ide yang tidak biasa. Mind mapping ditemukan oleh Tony Buzan, yang kemudian dikembangkan oleh Dr. Gabriele L. Rico menjadi teknik “clustering”.

“ Free Writing “ atau bisa dikatakan teknik menulis bebas, merupakan teknik menulis yang membolehkan penulisnya mencurahkan seluruh gagasan yang ada di pikirannya tanpa harus merasa terjerat dengan aturan-aturan penulisan yang ada. Sekali lagi, dalam artikel ini aku mengutip pernyataan beliau bahwa ada tiga tokoh yang bisa dijadikan rujukan dalam teknik free writing ini, yaitu yang pertama, Natalie Goldberg, yang merupakan instruktur meulis bebas dari Amerika Serikat. Yang kedua adalah Peter Elbow, yang merupakan profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di Univesitas Massachusetts, Amerika serikat. Dan yang terakhir adalah Dr. James W. Pennebaker, yang merupakan seorang psikolog yang meneliti tentang kegiatan menulis yang dapat menyembuhkan. Tentang menyembuhkan apa itu, aku sendiri secara pribadi masih bingung.

Natalie Goldberg dalam bukunya yang berjudul Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within (1986) mengatakan bahwa teknik ini berguna untuk menyingkap jati diri melalui menulis, atau mengalirkan sesuatu yang masih benar-benar asli dari dalam diri kita.

Peter Elbow sendiri dalam bukunya yang berjudul Writing without Teachers lebih menekankan bagaimana seseorang bisa mendapatkan kenyamanan terlebih dahulu sebelum menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Teknik menulis bebasnya ini mengajak setiap penulis tidak buru-buru mengoreksi apa yang dituliskannya. Entah apa alasannya, aku pribadi terus terang masih bingung dengan konsep ini.

James W. Pennebaker lewat risetnya telah menemukan bahwa teknik menulis “opening up” atau blak-blakan dapa membantu seseorang mengatasi tekanan hebat (depresi). Atau menurut versi Hernowo adalah dengan membuang “sampah” yang mengisi fikiran dengan menulis secara mencicil. Hal tersebut bisa dilakukan kapan pun. Dan jika memang perlu, dari sampah-sampah tersebut, kita bisa mengambil bahan yang memang penting untuk diri kita.

Dari berbagai penjelasan di atas, aku mendapatkan sebuah semangat baru lagi untuk melanjutkan novel yang sedang aku tulis. Segala permasalahan yang selama ini aku hadapi ternyata memiliki penyelesaian yang beragam. Tapi dengan pengetahuan baru ini, akan membuat segalanya sedikit berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s