Filsafat Heraclitus dan Hubungannya Dengan Filosof Barat

heraklitusBiografi Heraclitus

  1. Heraclitus hidup pada tahun 544 SM sampai 484 SM dan pada tahun 500 SM dia di anggap sudah dewasa dan menjadi salah satu filsuf sesudah phytagoras yang teorinya masih berpengaruh. Ia adalah warga Ephesus kelas bangsawan, dalam kamus filsafat dia disebut sebagai ‘Heraclitus of Ephesus’. Ia disebut sebagai “filosof perubahan”, “filosof dalam gelap”, “filosof yang menangis” dan “si sinting”. Meski dia adalah orang Ionia, Heraklitus tidak mengikuti tradisi ilmiah orang-orang miletus[1]. Ia memiliki sikap suka menghujat manusia sehingga mempunyai teori bahwa hanya kekerasanlah yang bisa memaksa manusia untuk bertindak demi kebaikannya sendiri. Etika Heraklitus adalah semacam asketisisme jumawa yang amat mirip dengan pandangan Nietzsche. Dari tulisan-tulisan yang masih bisa dibaca, tampak bahwa ia bukan sama sekali orang yang ramah. Ia sangat suka mencela dan ia adalah kebalikan dari seorang democrat. Sikap heraklitus terhadap agama pada zamannya yang tentunya adalah agama bacchis sangatlah memusuhi. Ia mempunyai agama sendiri, dari beberapa kritik pedasnya terhadapa agama yang ada di zaman itu dia terlihat mempunyai pandangan tersendiri tentang agama misteri yang lebih “suci” dari agama lainnya.  Dia banyak menciptakan syair-syair yang berbentuk seperti penyembahan, namun karena aliran nya yang mistik syair nya terlihat agak berbeda dari syair agama milesus. Selain itu, dia juga menciptakan syair yang menunjukkan tentang ketidak setujuannya terhadap teologi pada zamannya. Salah satu dari potongan syairnya berbunyi:

    “Takhayul yang dianut orang-orang adalah takhayul tak suci.

    Dan mereka menyembah angan-angan ini, seolah berbicara dengan seseorang di dalam rumahnya, tak tahu seperti apa gerangan para pahlawan dan dewa-dewa. Sekiranya bukan untuk Dionysus[2]mereka adakan upacara dan nyanyikan himne memalukan yang memuja lingga, akan lebih memalukan lagi perbuatan mereka. Namun Hades tak beda dengan Dionysus, yang untuk menghormatinya mereka bertingkah gila minum anggur berpesta pora. Sia-sia mereka bersuci dengan mencemarkan diri dalam darah, seperti orang terkena lumpur mencuci kakinya dalam lumpur. Siapa pun yang melihat dia melakukannya, tentu menganggap dia gila.” . Ia disebut pengikut agama bacchus oleh Cornford dan dianggap sebagai penafsir agama-agama misteri oleh Pfleiderer. Mungkin dia bisa disebut sebagai pencipta agama baru, tetapi karena kecaman-kecaman yang sering diucapkannya, maka agama itu pun haruslah diragukan keberadaannya. Heraklitus seringkali berbicara tentang dewa, dewa yang ia maksud disini bukanlah hanya satu, tapi banyak dewa-dewa.


    [1] Cornford, op. cit. (hal. 184), dengan menekankan hal ini Bertrand Russell mengira ini benar. Heraklitus sering disalah pahami, yakni disamakan saja dengan orang-orang Ionia lainnya.

    [2] Simbol kekacauan nafsu dan daya-daya hidup

  2. Pemikiran-Pemikiran Heraclitus
    Salah satu pernyataan paling terkenal yang sering dilontarkan oleh Heraklitus adalah bahwa kita tidak dapat melangkah atau berjalan dua kali di atas sungai yang sama karena sungai itu selalu mengalir. Maksudnya adalah ketika dalam penglihatan kita bahwa itu adalah sungai yang sama, maka hanya letak sungainya lah yang sama. Sedangkan jika kita melangkahkan kaki ke dalamnya dan menyentuh airnya maka dalam langkah berikutnya pun itu  sudah menjadi sungai yang berbeda dikarenakan airnya mengalir dan akan selalu berubah. Kecuali jika sampai  alirannya terhenti dan genangannya tidak berpindah barulah mungkin itu bisa dibilang sungai yang sama. Salah satu pengikutnya yang bernama cratylus [1]mengagungkan teori gurunya ini, namun ia mengubahnya menjadi “Seseorang tidak bisa melangkah ke dalam satu sungai sama satu kalipun.”[2]. Artinya, tidak ada yang dapat dikatakan mengenai sesuatu, karena segalanya berada dalam perubahan dan tidak pernah ada yang tetap sama yang dapat dikatakan tentang mereka. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh heraklitus hanya saja ia langsung menisbatkan bahwa jangankan dua kali, tetapi sungai itu juga berubah selama kita butuhkan waktu untuk berusaha melangkahkan kaki ke sungai itu pada saat pertama kalinya. Alasan ini mungkin bisa lebih kuat jikalau sungai memang benar-benar mengalir deras, dan sungai tidak akan berhenti sewaktu kita memijakkan kaki kita.Karena itu muncul teori lagi bahwa  kebenaran itu akan selalu berubah dan tidak tetap, sebagaimana kosmos yang dinamis yang tak pernah diam, selalu bergerak dan berubah. Ia meyakini dalam dunia ini terjadi perubahan abadi. Ia menggunakan konsep perubahan ini sebagai fondasi filsafatnya. FLUX yang tidak berakhir merupakan karakteristik yang paling mendasar di alam semesta ini.Heraklitus meyakini juga bahwa  Api adalah substansi dasar dari segala sesuatu. Dia mengatakan bahwa Jiwa adalah api dan air, api mulia dan air nista.  Metafisika Heraklitus cukup dinamis untuk bisa memuaskan orang-orang modern yang gairahnya paling meluap-meluap sekalipun[3]. Beberapa pernyataannya adalah “Dunia ini yang sama bagi semuanya, bukan diciptakan oleh dewa atau manusia; tetapi dahulu sekarang dan seterusnya adalah Api yang terus menyala, yang kadang berkobar dan kadang meredup.”, pernyataan yang lain adalah “Pertama-tama Api berubah menjadi laut; dan separuh dari laut adalah tanah, separuhnya lagi angin puting beliung.”. Api di sini dipandang sejenis dengan roh, sebagai asas dari hidup itu sendiri. Itulah sebabnya api ia sebut sebagai Logos. Logos didefinisikan sebagai kausa imanen dari pola identitas yang nyata dalam perubahan terus menerus dari segala sesuatu. Arti lain dari logosnya heraklitus adalah sesuatu yang tetap sama di alam semesta sementara segala sesuatu yang lainnya berubah. Segi-segi alam semesta yang dapat diidentifikasi, dibicarakan, dinamai dan tetap relative tidak berubah contohnya seperti matahari. Ia diidentifikasi sebagai pusat alam semesta, selalu dibicarakan sebagai salah satu sumber tenaga dan dinamai matahari.Topik lain yang bisa dipertanyakan tentang heraklitus adalah rasa pengagungannya kepada api. Apakah dengan begitu dia sama saja menyalahkan Thales karena telah memilih air sebagai sumber kehidupan?. Tentu saja tidak, karena pada dasarnya Heraklitus memilih api sebagai penggambaran akan asal muasal alam semesta ini. Alasannya karena ia tidak bisa menggambarakan secara jelas abstraksi yang ingin ia kemukakan tentang world-order sehingga ia memilih komponen yang ia anggap paling ringan dan paling halus yaitu Api.  Kita juga sebagai pemikir belum bisa membedakan antara hot stuff (barang yang panas) and fire hot (panas itu api)[4]. Karena jika ia mengambil api sebagai sumber, apakah karena api itu panas atau karena panas itu api belum bisa Heraklitus jelaskan secara real pada tiap kata dan penggambarannya tentang Api. Dengan itu kita juga bisa memastikan bahwa Heraklitus tidak punya definisi yang utama tentang Api dalam pikirannya. Api sebagai sebuah substansi tidak punya prioritas terhadap benda yang lain. Api itu hanyalah salah satu dari empat elemen yang mengambil bagian secara konstan dalam putaran perubahan atau daur dari kehidupan ini. Hal ini menunjukkan bahwa api adalah salah satu pembentuk kehidupan yang merupakan inti dan pola dari alam semesta.

    Ia juga mengemukakan doktrin lain yang ia anggap lebih penting daripada perubahan abadi yaitu doktrin tentang hal-hal yang berlawanan. Ia menggambarkan sebuah lyra, alat musik yang didalamnya terdapat penyesuain antara tegangan-tegangan yang berlawanan  sehingga menciptakan sebuah harmoni. Harmoni adalah perselisihan hal-hal yang berbaur yang menghasilkan gerak. Di dunia ini terdapat kesatuan yang merupakan hasil dari keragaman. Ia berkata bahwa manusia tidak mengetahui ini, bagaimana sesuatu yang bertentangan kemudian berdamai dengan dirinya sendiri. Kadang ia berbicara seolah-olah kesatuan lebih fundamental daripada keragaman.  Banyak perkataan-perkataanya seperti “Yang baik dan yang buruk adalah satu.”, “Yang menanjak dan yang menurun adalah satu dan sama.” Menjadi bukti keyakinannya terhadap keberagaman.  Akan tetapi, tak akan ada kesatuan jika tak ada hal-hal yang bertentangan. Metafisika heraklitus didominasi  oleh konsepsi tentang keadilan kosmis, yang mencegah agar perselisihan antara hal-hal yang berlawanan janganlah menghasilkan kemenangan mutlak salah satu pihak. Seperti salah satu pernyataannya berikut “Api hidup dari kematian  udara, dan udara hidup dari kematian api; air hidup dari kematian tanah, tanah hidup dari kematian air.”.

    Heraklitus menyatakan bahwa segala sesuatu lahir dari yang-satu, dan yang-satu lahir dari segala sesuatu; namun yang-banyak mengandung realitas yang lebih kecil dibanding yang-satu, yakni Dewa. Heraklitus berulang kali menyebut “Dewa” yang berbeda dengan “dewa-dewa”. Sampai-sampai Manusia yang paling bijaksana pun tak lebih dari monyet jika dibandingkan dengan Dewa, seperti halnya monyet yang paling cantik pun tetap jelek dibandingkan manusia. Sehingga tak diragukan lagi, Dewa adalah perwujudan dari keadilan kosmis.


    [1] Masa hidupnya tidak diketahui namun ia adalah filsafat yunani yang sezaman namun sedikit lebih awal dari Plato (428-348 SM). Dialog Plato Cratylus diambil dari namanya.

    [2] Kamus Filsafat, Tim Penulis Rosda, hal 66.

    [3] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Hal. 58

    [4]Melchort, Norman, The Great Conversation-A Historical Introduction to Philosophy, Hal 98

  3. Heraclitus dan Hegel
    Beberapa buku mengatakan bahwa Heraklitus mempunyai doktrin  yang nantinya menjadi benih-benih  filsafat Hegel, pernyataan ini bisa dipertimbangkan agar kita bisa semakin mengerti perpaduan tentang hal-hal yang berlawanan. Dialektik hegel adalah mengompromikan, mendamaikan hal-hal yang berlawanan.  Begitu juga heraklitus yang mengatakan bahwa tidak akan ada kesatuan jika tak ada hal-hal yang bertentangan, berkombinasi, karena yang baik bagi kita adalah hal-hal yang berlawanan. Namun kemudian hegel menjadikannya sebagai dialektika dimana ada dua hal yang berlawanan kemudian bisa menjadi satu hal yang merupakan hasil dari yang berlawanan tersebut, yaitu tesis, antithesis dan sintesis. Sedangkan heraklitus tidak menjelaskan serinci itu, ia hanya mengatakan beberapa keterangan bahwa hal-hal yang berlawanan itu sama, dan terkadang dia berkata bahwa kesatuan lebih fundamental daripada keragaman[1].


    [1] Russel, Bertrand, Sejarah filsafat barat, hal 59.

  4. Heraclitus dan Nietzsche
    Telah disebutkan pada sejarah hidup heraklitus di atas bahwa ia memiliki asketisisme yang jumawa seperti Nietzsche. Ia dan Nietzsche berada di dua zaman yang jauh berbeda tapi mereka mempunyai satu julukan yang hampir sama, si sinting dan orang gila. Tapi Nietzsche dikatakan memang benar-benar gila.Asketisisme dalam kamus filsafat memiliki dua pengertian yaitu versi kuat dan versi lemah. Versi kuat nya adalah bahwa manusia harus menyangkal semua keinginannya tanpa terkecuali, sedangkan versi lemahnya adalah bahwa manusia hanya diharuskan untuk menyangkal keinginan tubuh yang berupa nafsu, yang membangkitkan birahi, kenikmatan indrawi  dan keinginan duniawi seperti keinginan untuk pemilikan materi, kemasyhuran dan keinginan, dan kejayaan yang semuanya adalah keinginan yang mendasar. Kehendak-kehendak badaniah harus ditekan dan dengan cara inilah seseorang dapat membebaskan jiwanya guna mencapai kebaikan dan keselamatan.[1]Dalam dua pengertian diatas kesamaan antara keduanya adalah pengertian versi lemah, pembuktiannya bisa kita ketahui lewat argumen-argumen mereka sendiri. Argumen pertama dari Heraklitus yang mengatakan, “Memang sulit mengalahkan dorongan nafsu. Apa pun yang ingin diperolehnya mendapatkannya dengan mengorbankan jiwa.”. Dia menggunakan kata memang yang dimana seharusnya tidak seperti itu. Contoh dalam kata ‘dia memang benar tetapi seharusnya dia lebih benar dari itu’ maka bisa menjadi ‘memang sulit mengalahkan dorongan nafsu tetapi dia harus dikalahkan’.  Dikatakan bahwa Heraklitus bisa dianggap memuliakan kekuatan yang diperoleh lewat penguasaan-diri, dan memandang rendah nafsu-nafsu yang menyimpangkan manusia dari ambisi-ambisi utamanya.Sedangkan Nietzsche yang jelas-jelas menyetujui aristokrasi tidak pernah memikirkan agar nafsu untuk menguasai dirinya. Apa yang ia punya lewat angan-angannya tentang manusia super adalah hasil dari ketakutannya sendiri.

    Keduanya sama-sama menyetujui perang; kekejaman dan kebengisan.  Perang bagi heraklitus adalah bapa semuanya dan raja semuanya. Bahkan dia punya ungkapan bahwa semua binatang hanya bisa digiring  ke padang rumput dengan lecutan. Sedangkan Nietszche adalah orang yang menyetujui aristokrasi, dan dia berpendapat bahwa yang memiliki keunggulan lah yang harusnya menguasai dunia dan ia menyebutnya sebagai manusia “luhur”. Mereka menjadi terlihat sama karena  Bertrand Russel membuat sebuah percakapan antara Nietszche dan Buddha yang pada ujungnya Nietzsche membanggakan teks-teks Heraklitus untuk dibaca tentang cinta. Sedangkan cinta menurut Heraklitus adalah cinta yang muncul untuk karena kita menghilangkan nafsu dari dalam diri kita agar bisa menghambakan diri pada dewa yang ia anggap “suci”.


    [1] Kamus Filsafat, Tim Penerbit Rosda, Hal 24.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s