Filsafat Pra-Socrates

0001-1Thales, Anaximander, Anaximenes, serta Pythagoras. Para filosof-filosof ini dikatakan sebagai filosof alam, karena mereka membahas tentang asal mula alam semesta ini. Dalam setiap pelajaran sejarah filsafat, yang petama kali disebutkan adalah bahwa filsafat bermula dari Thales, yang mengatakan segala sesuatu berasal dari air. Pernyataan Thales tersebut tidak memberikan efek rangsangan bagi para pemula yang sedang berupaya untuk menghargai filsafat.

Bagi Thales, filsuf Yunani tertua yang berpendirian bahwa apa saja yang ada tersusun dari air, menaruh keyakinan bahwa alam kodrat merupakan semacam makhluk hidup, seperti halnya hewan “mempunyai jiwa”.

Anaximander memandang substansi terdalam sebagai sesuatu yang ia namakan ketidakterbatasan, yang digambarkannya bahwa hal tersebut tidak berhingga jumlahnya dan tidak tertentu sifatnya. Ia juga berpendapat, berdasarkan atas ketidakterbatasan tersebut timbullah berbagai dunia yang tidak terbatas jumlahnya.

Sedang Anaximenes mengatakan bahwa substansi ialah udara, dan mengaitkannya dengan Tuhan. Unsur-unsur yang kita kenal seperti api, angin, awan, air, dan batu, sesungguhnya merupakan akibat proses perenggangan dan perapatan yang saling berlawanan. Udara secara abadi mengakibatkan gerakan yang beredar di dalam dirinya sendiri, dan gerakan inilah yang menyebabkan adanya perbedaan dan perpisahan di antara berbagai substansi alam.

Oleh karenanya, bagi Anaximenes masalah di bidang kosmologi yang hendak dipecahkannnya menjadi berubah bukan lagi masalah “Apakah yang merupakan bahan penyusun segala sesuatu?” melainkan  “Apakah yang menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan pada substansi terdalam?”  jawaban atas pertanyaan yang kedua menyebabkan munculnya suatu teori perubahan, yaitu prinsip perenggangan-perapatan.

Karena itu para filosof alam ini memahamkan alam sebagai “keanekaragaman setempat-setempat di dalam kerangka materi prima yang sejenis”, yang dikaitkan dengan pengertian “yang ilahi”. Menurut para filosof ini istilah “alam” menunjuk kepada sesuatu yang menyebabkab apa saja mengambil sikap dan keadaan seperti yang terdapat dalam kenyataannya.

Satu tokoh lagi seorang filosof Pytagoras, yang dikenal dengan dalil yang menggunakan namanya. Pytagoras adalah seorang tokoh yang tidak begitu jelas riwayat hidupnya di dalam sejarah  filsafat. Ketidakjelasan tersebut tampak pada kenyataan bahwa tidak banyak diketahui orang mengenai perikehidupannya. Juga banyak ajaran-ajarannya sering dicampuradukkan dengan ajaran-ajaran  para prngikut paham Pytagoreanisme, semacam kelompok filsuf yang menurut anggapan orang dialah yang mengepalainya.

Dari berbagai macam latar belakang masalah serta teori yang dibangun oleh para filsuf tersebut tentang alam semesta ini yang dikemukakan oleh tiga filosof alam ionia, serta bagaimana teori Pytagoras tentang alam dengan ilmu ukur, yang berusaha menjelaskan mengapa sampai terdapat perbedaan-perbedaan kualitatif di dunia ini.

  1. Thales
    Thales adalah warga asli Miletus, di Asia kecil  yang merupakan sebuah kota niaga yang maju. Tentang hidup Thales, seperti yang kita ketahui bahwa ia terkenal karena bisa meramal terjadinya gerhana yang menurut para astronom terjadi pada tahun 585M. itu menunjukan bahwa Thales hidup pada periode itu.Dalam tradisi yunani terdapat beberapa berita mengenai ketujuh orang bijak, dan Thales adalah salah satu dari ketujuh orang bijak tersebut (ketujuh orang bijak itu adalah: Thales dari Miletos, Bias dari Priene, Pitakos dari Mytilene, Soloon dari Athena, Kleobolos dari Lindos, Khiloon dari Sparta, Periandros dari Korinthos), yang masing-masing dikenal dengan terutama karena satu pernyataan yang bijak; menurut kisah tradisi, Thales membuat pertanyaan bahwa “yang penting adalah air”.Menurut Thales asas pertama yang menjadi asal mula segala sesuatu adalah air, penemuannya didasarkan atas kenyataan, bahwa air dapat ditemukan dalam bentuk yang bermacam-macam. Air tampak sebagai benda halus (uap), benda cair (air), dan tampak sebagai benda keras (es). Air terdapat pada makanan dan juga terdapat pada batu padas yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Di pantai Miletos air tampak sebagai lautan yang luas, sehingga mudah orang berfikir, bahwa bumi tentu keluar dari air itu dan terapung-apung diatasnya.

    Menurut Aristoteles, Thales berpendapat bahwa air adalah subtansi dasar yang membentuk segala hal lainnya: dan ia mengatakan bahwa bumi terapung di atas air, Thales juga mengatakan bahwa magnet memiliki jiwa yang dapat menggerakan besi.

    Pernyataan Thales tentang segala sesuatu terbuat dari air bisa dianggap sebagai hipotesis ilmiah dan sama sekali bukan pendapat yang tolol. Dua tahun yang lalu, sudah diterima bahwa segala sesuatu terbuat dari hydrogen yang dua pertiganya adalah air. Bangsa Yunani memang kurang cermat dalam membuat hipotesis, namun mazhab Milesian setidaknya telah siap melakukan pengujian secara empiris. Ilmu pengetahuan dan filsafat Thales memang masih mentah, namun itulah yang dapat merangsang pemikiran dan observasi.

  2. Anaximandros/Anaximander
    Anaximandros filusuf kedua setelah Thales yang juga merupakan murid Thales, menurut kebanyakan orang-orang dia lebih menarik dari pada Thales. Konon usianya 64 tahun pada tahun 546SM. Menurut tradisi, ia mempunyai jasa-jasa dalam bidang astronomi dan juga dalam geografi, sebab dialah yang membuat peta bumi.Menurut dia prinsip terakhir itu adalah apeiron: yang tak terbatas, apeiron itu bersifat ilahi, abadi, tak berubah-ubah dan meliputi segala-galanya. Aristoteles menerangkan pendapat Anaximandros tentang apeiron itu sebuah prinsip yang fundamental, kalau saja Thales mengungkapakan bahwa air itu segala-galanya, maka air itu tidak terbatas, maka tidak ada untuk anasir yang berlawanan dengan air yaitu api, dengan itu Anaximandros tidak puas dengan menunjukan salah satu anasir sebagai prinsip terakhir, melainkan mencari anasir lain sebagai prinsip yang akhir, yang lebih mendalam, yang tidak dapat diamati oleh panca indra.Ia mengatakan bahwa segala hal berasal dari subtansi asali, tapi subtansi tesebut bukan air , menurut dia, tidak mungkin bahwa asas pertama segala sesuatu itu adalah air. Sebab seandaianya benar bahwa air adalah  asas pertama segala sesuatu, air harus didapatkan dimana-mana, termasuk api, juga pada sesuatu yang kering.

    Bagaimana dunia timbul dari prinsip “yang tak terbatas” itu? Dari sebuah perceraian (ekkrisis), maka dilepaskan dari apeiron itu unsur-unsur yang berlawanan (ta emantika) seperti panas dan dingin, kering dan basah. Unsur-unsur itu selalu berperang antara satu dengan yang lain. Tapi apabila salah satu unsur jadi dominan, maka keadaan itu disebut tidak adil (adikia), dan harus diseimbangkan kembali agar menjadi adil. Jadi ada satu hukum itu dengan suatu nama etis yang disebut keadilan (dike).

    Anaximandros juga menganggap kejadian dunia lainnya adalah sesudah perceraian yang terjadi, suatu gerak berputar memisahkan dengan yang panas dengan yang dingin, sehingga menjadi sebuah bola raksasa, karena kepanasan sesuatu yang dingin yang ada di dalam  itu adalah air mulai melepaskan diri dari tanah dan berkembanglah udara atau kabut, karena tekanan yang disebabkan oleh udara, bola meletus menjadi sebuah lingkaran, tiap lingkaran terdiri dari api yang dilapisi oleh udara, karena setiap lobang nampak api yang dikandungnya dan itu disebut matahari, bulan dan bintang-bintang, dan ketika lobang itu ditutupi oleh udara atau kabut, maka terjadilah gerhana matahari dan bulan.

    Menurut Anaximandros bumi berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali besar dari tingginya. Ia menolak anggapan Thales bahwa bumi terletak diatas air, maka harus diterangkan keberadaan air itu sendiri. Anaximandros menjelaskan bahwa bumi tidak bergantung pada sesuatu apapun, bumi tidak  jatuh karena kedudukannya persis dalam pusat jagat raya, dengan jarak yang sama terhadap yang lain, jadi tidak ada alasan yang menyebabkan dia jatuh.

    Menurut Anaximandros semua mahluk yang hidup termasuk juga manusia berasal dari air, bentuk hidup pertama adalah ikan, ketika tanah semakin menjadi kering dan air mulai surut karena disinari panas matahari, maka mahluk hidup juga mulai berkembang di atas bumi. Manusia pertama hidup di bumi sebagai anak bayi, ia tentu tidak bisa bertahan lama, maka ia beranggapan manusia pertama tumbuh dalam tubuh ikan, pendapat Anaximandros ini berdasarkan penelitian bahwa seekor hiu melindungi anak-anaknya dalam badannya.

    Anaximandros termasuk filusuf yang mempengaruhi sejarah filsafat selanjutnya, melalui yang telah kita tahu bahwa Anaximandros mendasarkan pendapatnya pada observasi. Tapi harus kita ketahui bahwa obsevarsi ini masih jauh dari memuaskan.

  3. Anaximenes
    Tokoh terakhir dari mazhab Milesian, kurang menarik dari Anaximandros , namun dia membuat beberapa kemajuan penting. Masa hidupnya tidak pasti. Ia jelas muncul setelah Anaximandros.Menurut Anaximenes subtansi awal adalah udara, jiwa adalah udara, api adalah udara yang encer, jika dipadatkan maka udara menjadi air, jika dipadatkan lagi menjadi tanah dan akhirnya menjadi batu. Udara melahirkan semua benda yang ada pada alam ini karena sesuatu proses “pemadatan dan pencairan”.Dalam satu-satunya kutipan yang disimpan dari karyanya ia mengatakan bahwa seperti jiwa menjamin kesatuan tubuh kita, demikian pun udara melingkupi segala-galanya.

    Anaximenes adalah pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Tubuh adalah mikrokosmos (dunia kecil) ddan seakan-akan mencerminkan jagat raya yang merupakan mokrokosmos (dunia besar). Tapi Anaximenes belum mempergunakan istilah-istilah ini.

    Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar, dan bahwa udara melingkupi segala sesuatu.

    Ada sejarawan yang mengatakan bahwa ajaran Anaximenes merupakan kemuduran, jika dibandingkan dengan pemikiran Anaximandros lebih subtilserta spekulatif, tapi ada sejarawan lain yang mengatakan bahwa ajaran Anaximenes merupakan kemajuan. Alasan yang mereka kemukakan ialah bahwa  karena proses pemadatan dan pengeceran itu untuk pertamakalinya suatu hukum fisis dikenakan dalam alam semesta sebagai pengganti hukum moral (keadilan) dari Anaximandros. Dengan demikian perbedaan-perbedaan alam semesta dianggap bersifat kuantitatif belaka. Anggap ini membuka perspektif-persepektif luas untuk penyelidikan ilmiah.

  4. Pyhtagoras
    Pythagoras yang pengaruhnya terhadap zaman kuno dan modern  dijadikan pokok pembicaraan oleh Russel dalam bukunya, dari segi intelektual adalah seorang tokoh terpenting yang pernah hidup, baik ketika bijak maupun tak bijak. Matematika, dalam pengertian sebagai argumen deduktif demonstratife, bermula dari dia, dan oleh dialah matematika dikaitkan dengan suatu bentuk mistisme  yang ganjil. Pengaruh matematika terhadap filsafat, yang sebagian karena dia, sejak zaman itu menjadi cukup mendalam sekaligus kurang menguntungkan.Ia adalah warga pribumi pulau Samos, dan sudah dewasa kira-kira pada tahun 532 SM. Beberapa kalangan menyebutkan ia adalah anak seorang warga terkemuka bernama Mnesarchos, sementara kalangan lain mengatakan bahwa ia adalah anak dewa Apollo. Di masa itu Samos dipimpin oleh tiran bernama Polycrates, seorang bandit tua yang menjadi kaya-raya serta juga berkat tmemiliki angkatan laut yang besar.Samos adalah kota dagang saingan Miletus, para pedagangnya menyebar sampai sejauh Taressus di Spanyol, yang terkenal karena pertambangannya. Polycrates   menjadi tiran di Samos kira-kira pada tahun 535 SM, dan berkusa hingga tahun 515 SM. Ia tak terlalu hirau dengan kaidah-kaidah moral; ia bunuh dua saudaranya yang semula bekerja sama dengan dia memimpin tirani, dan ia gunakan angkatan lautnya terutama untuk merompak. Ia diuntungkan oleh fakta bahwa Miletus akhirnya takluk kepada Persia.

    Untuk mencegah ekspansi orang Persia kewilayah barat yang lebih jauh,ia bersekutu dengan Amasis, Raja Mesir. Namun ketika Cambyses, Raja Persia, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menaklukan Mesir, Polycrates melihat bahwa tampaknya Persia bakal unggul, dan iasegera berpindah kubu. Ia kirimkan balatentara, yang terdiri dari lawan-lawan politiknya, untuk menggempur Mesir; namun rombongan itu memberontak dan kembali ke Samos untuk menyerang dia. Tapi Polycrates dapat mengalahkan mereka, meski pada akhirnya ia terguling juga berkat tipu muslihat yang bisa memperdayakan wataknya yang rakus.

    Penguasa Persia di Sardes berpura-pura mengatakan bahwa ia berniat memberontak Maharaja dan sanggup memberi imbalan besar jika Polycrates bersedaia membantu , sehingga karena inilah Polycrates lantas pergi ke Sardes untuk merundingkannya namun ternyata ia ditangkap dan disalib.

    Polycrates adalah seorang penyantun seni, dan ia menghiasi kota Samos dengan bangunan-bangunan publik yang indah. Anacreon adalah penyair  istananya. Akan tetapi Pythagoras tak menyukai pemerintahannya, sehingga ia pun pergi dari Samos. Dikisahkan Pythagoras mengunjungi Mesir dan belajar disana, namun pada akhirnya ia menetap di Croton, Italia selatan.

    Di Croton,Pythagoras membentuk suatu perkumpulan keagamaan yang untuk sekian waktu cukup berpengaruh pada kota itu. Tapi warga disana menolak sehingga Pythagoras harus pindah ke Metaontion (msih italia selatan). Ia menjadi tokoh yang dimitoskan yang mendapatkan mukjizat dan kekuatan gaib, sementara ia seorang pendiri suatu mazhab yang terdiri dari para matematisi. Dua tradisi yang bertolak belakang itu saling bergulat dalam pemikiranya, sehingga kebenaranpun sulit dijabarkan olehnya.

    Sebagaimana banyak diketahui, Pythagoras  mengatkan bahwa asas pertma segla sesuatu adalah bilangan, pernyataan ini jika ditafsirkan secara modern, memang tidak masuk akal, tapi ia katakan bukan berarti tidak ada maksudnya. Unsur-unsur atau asas-asas bilangan terdapat pada segala sesuatu yang ada. Unsur itu adalah: genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Ia rupanya menganggap dunia ini bersifat atomis, dan menganggap tubuh terbentuk oleh molekul-molekulyang terdiri dari atom-atom yang tersusun dalam pelbagai bentuk. Dalam hal ini dia mengharapkan aritmatika sebagai bidang studi yang mendasarkan dalam ilmu fisika maupun estetika.

    Penemuan penting dari Pythagoras , atau dari murid-muridnya yang langsung adalah proposisi tentang segitiga siku-siku, yakni bahwa jumlah kuadrat sisi-sisinya yang membentuk sudut siku-siku sama dengan hasil kuadrat dari sisi yang lain, yaitu sisi miring nya. Orang-orang mesir sudah mengetahui sebuah segiitiga yang sisinya adalah 3,4,5memilik sudut siku-siku, namun sepertinya bangsa yunanilah yang pertama kali mengetahui bahwa 32+42=52, dan bertolak dari hitungan ini, mereka membentuk proposisi umu yang dapat dibuktikan.

    Pengaruh geometri terhadap filsafat dan metode ilmiah cukup mendalam. Geomatri, yang diciptakan oleh bangsa yunani, berangkat dari aksioma-aksioma yang jelas dengan sendirinya (self-evident) . dan melalui penalaran deduktif, terus melangkah sampai ke teorema-teorema yang jauhdari sifat yang kelas dengan sendirinya. Aksioma dan teoroma bisa berlaku dalam ruang nyata, yakni sesuatu yang ada dalam pengalaman. Pandangan ini mempengaruhi plato dan kant dan sebagian besar filusuf diantara kedua tokoh itu. Teologi, dalam bentuk yang eksak dan skolastik, mengambil gayanya dari sumber yang sama. Agama yang sifatnya personal bersumber dari ektase, teologi bersumber dari matematika, dan keduanya terdapat pada Pythagoras .

    Betrand Russell meyakinin baha matematika adalah sumber utama kepercayaan terhadap kebenaran yang eksak dan abadi, maupun terhadap dunia penalaran yang adi-inderawi. Doktrin-doktrin mistik yang menyangkut hubungan antara waktu dan keabadian pun mendapat dukungan dari matematika murni, karena objek-objek matematika, seperti bilangan-bilangan, andai nyata sekalipun, sifatnya tetap abadi dan tidak berada dalam waktu. Objek-objek abadi demikian dianggap sebagai pikran tuhan. Maka muncullah doktrin plato bahw tuhan adalah ahli geometri, dan keyakinan Sir James Jean bahwa dia penggemar aritmatika. Agama rasionalistik yang berbeda dengan agama apokaliptik, semenjak Pythagoras, dan terutama sejak plato, telah sepenuhnya didominasi oleh metematika dan metode matematis.

    Kombinasi matematika dan teologi, yang bermula dari Pythagoras , telah menanamkan ciri pada filsafat yang bercorak religious di Yunani, di abad pertengahan, dan di zaman modern hingga Kant. Orphisme sebelum Pythagoras sepadan dengan agama-agama misteri Asiatik. Tetapi pada Plato, Santo Agustinus, Thomas Aquinas, Descartes, Spinoza, dank ant terjadilah perpaduan yang mendalam antara agama dan penalaran, antara aspirasi moral dan sikap logika yang memuliakan segala yang baka, yang semua itu bersumber dari Pythagoras, dan dengan demikian membedakan teologi Eropa yang mengalami intelektualisasi itu dengan mistisme Asia yang lebih lugas. Baru akhir-akhir ini saja terbuka kemungkinan untuk mengungkapkan   dengan jelas di manakah Pythagoras telah keliru.

    Sulit bagi saya untuk mengetahui adakah tokoh lain yang memiliki pengaruh sebesar dia dalam kancah pemikiran. Saya katakan demikian karena apa yang tampak sebagai Platonisme, jika dianalisis, pada intinya adalah Pythagoreanisme juga. Semua konsepsi tentang suatu dunia yang kekal, yang menampilkan diri lewat intelek dan tidak lewat indera, bersumber dari dia. Namun tentu saja Pythagoras belum menyangka bahwa nantinya orang-orang Kristen akan memikirkan Kristus sebagai Firman; dan dia belum pula memperkirakan bahwa nantinya para teolog akan berupaya menemukan bukti-bukti logis tentang keberadaan Tuhan dan imortalitas. Pada Pythagoras  semua itu baru bersifat implisit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s