Sokrates Ngopi Bareng Sophis

aristotle

  1. Munculnya Kaum Sophis
    Sebelum mengenal Sokrates atau Sophis lebih jauh, mungkin akan lebih efektif jika saya memperkenalkan keduanya terlebih dahulu. Meskipun menilik dari judul yang tertulis akan menghasilkan sebuah konsep yang mungkin mengkontradiksikan pemikiran antara keduanya. Kita atau khususnya diri saya pribadi, sering mendengar dari beberapa kawanan calon-calon filosof pasaran yang mengatakan secara sepintas bahwa, “janganlah kau jadi seperti kaum Sophis, yang kecerdasannya hanya untuk membodohi orang lain”. Sepintas kalimat ini mengindikasikan kehinaan kaum Sophis di mata para filosof yang berkaitan dengan sejarah masa lalu. Lalu, apa penyebabnya?

Nama Sophis ini tidak digunakan sebelum abad ke-5 Masehi. Sophis pada awalnya dinisbahkan kepada orang yang memiliki kecerdasan intelektual diatas rata-rata, atau bisa dikatakan sebagai cendekiawan. Beberapa tokoh filsafat abad mencoba memberikan definisi mereka tentang Sophis, diantaranya menurut Herodotus (480 M) Sophis adalah manusia layaknya Phytagoras. Androtion yang notabene pengarang yang berasal dari Yunani mengatakan bahwa Sophis adalah tujuh orang bijaksana pada abad ke-6 dan juga merujuk ke Sokrates. Mungkin filosof setelah abad ke-5 masih banyak lagi memiliki definisi tentang siapa itu Sophis, namun kali ini saya akan menuliskan hal ihwal tentang nama Kaum Sophis itu sendiri dalam porsi yang tidak begitu detail.

Sophis di Athena saat itu, merujuk kepada orang-orang cerdas yang menjadi guru dengan cara berkeliling kota untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka saat itu. Dari cara berkeliling itulah sehingga para Sophis memegang peranan penting di Athena dalam tatanan kehidupan sosial. Lambat laun waktu berlalu, nama Sophis mulai terdengar tidak seharum sebelumnya, terutama setelah Sokrates keluar untuk menggugat mereka. Hal ini menurut para filosof yang notabenene sebagai penentang dari Sophis sendiri tidak lain karena cara mereka yang berkeliling untuk mengajarkan dan menyebarkan pemikiran-pemikiran dan argumentasi-argumentasi salah, yang mereka bolak-balikan sehingga terlihat benar adanya serta mengambil upah atas itu semua. Melihat semua kenyataan ini, tentu terasa kurang etis melihat definisi Sophis adalah orang yang bijaksana dan berpengetahuan luas. Oleh karena itu, sampai saat ini nama Sophis seolah-olah menyimpan pesan akan orang-orang yang suka membolak-balikan fakta yang ada.

Beberapa penjelasan tentang kaum Sophis, kaum Sophis adalah filosof alam yang lahir saat terjadi perubahan politik dan ekonomi di Athena, sehingga menjadikan Athena mengalami perkembangan intelektual dan kemajuan kebudayaan yang cukup pesat. Tidak hanya sampai disana, bahkan dalam buku Sejarah Filsafat Yunani karangan Dr. K. Bertens dikatakan juga bahwa kaum Sophis terlahir berkat kebutuhan Hellas atau Yunani akan dunia pendidikan. Hal ini dilakukan tidak lepas dari peran politik yang begitu mencolok saat itu. Tolak ukur kemahiran berbahasa menjadi sebuah poin dan aspek yang sangat penting dalam menunjang kesuksesan berpolitik. Dan disamping penguasaan ilmu tata bahasa, kaum Sophis juga mengajarkan tentang ilmu astronomi dan matematika untuk menggiring masyarakat kepada politik praktis yang mereka usung sejak awal. Disini juga dijelaskan bahwa pada saat itu kaum Sophis mulai memunculkan dan menyebarkan paham skeptisisme. Yaitu paham yang meragukan segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia. Mereka menafikan aturan-aturan dan adat yang berkembang pada saat itu. Menurut mereka, manusia adalah tolak ukur dari penentuan nilai salah dan benar yang ada pada aturan-aturan dan adat tersebut. Mereka beranggapan bahwa tidak ada hukum yang mutlak atau satu hukum yang ditetapkan kepada semua secara keseluruhan, karena hukum atau kehidupan sosial tersebut terlahir bukan atas dasar kodrati, tetapi semata-mata hanya berlandaskan kebutuhan yang berlaku antara satu dengan yang lainnya.

  1. Pemikir-Pemikir Kaum SophisSebuah tindakan yang sangat tidak bijak jika kita akan mengkritisi sebuah objek namun tidak mengenali objek tersebut secara kesluruhan dan hanya melihat dari kulitnya saja. Tinjauan kritis akan pemikiran kaum Sophis tentu tidak lepas dari pemikir-pemikirnya yang hidup pada zaman itu. Protagoras yang hidup antara tahun 490-420 sebelum masehi memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat urgen saat itu. Ia mencetuskan ajaran relativisme, yaitu pemikiran yang menyakini manusia adalah tolak ukur kebenaran atas segala sesuatu, meskipun masih terlihat tabu, manusia seperti apa yang dimaksudkan oleh Protagoras, apakah manusia secara personal atau manusia dalam bentuk koloni. Dalam beberapa sumber menyebutkan bahwa Plato menganggap Protagoras lebih menekankan kepada manusia secara personal ketimbang manusia dalam bentuk koloni. Hal ini didapat tidak lain karena Protagoras sendiri memberikan sebuah contoh dalam bentuk analogi yang membandingkan antara orang sakit dengan orang sehat ketika berada di alam bebas. Orang sehat akan merasakan sesuatu yang biasa saja ketika di terpa oleh angin yang berhembus, namun akan berbeda dengan orang sakit. Orang sakit akan merasa dingin atau mungkin seperti sesuatu yang agak menusuk-nusuk dikala angin yang berhembus menerpa dirinya. Dari sinilah Protagoras menyimpulkan bahwa, angin yang sama dapat dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda, analogi yang kemudian mendasari ajaran relativismenya.Relativisme yang diusung oleh Protagoras adalah relativisme yang berlaku secara universal, tidak hanya sebatas penginderaan yang berbeda diantara dua individu yang berbeda saja. Plato yang sedikit jeli pun kemudian menafsirkan bahwa sebenarnya teori atau pemikiran Protagoras sendiri telah mengancam eksistensi dari pemikirannya sendiri. Artinya bahwa kebenaran dari pemikiran yang ia cetuskan bukan sesuatu yang mutlak, dan kebenarannya hanya berlaku pada dirinya sendiri, dan mungkin tidak untuk orang lain. Dan dalam hal ini saya sangat setuju untuk sebuah penilaian yang sangat logis dari seorang Plato.

    Gorgias, yang hidup antara tahun 483-375 sebelum masehi. Masa hidupnya yang panjang  membuatnya harus terjun ke dalam pemikiran-pemikiran Sophis yang begitu konyol. Pemikirannya sendiri masih terpengaruh oleh gurunya Empedokles dan Zeno. Sumbangan pemikirannya yang paling terkenal adalah ajaran tentang skpetisisme layaknya Protagoras dan nihilisme. Di dalam ajarannya yang tertulis di dalam bukunya yang berjudul “On not Being or On Nature” ia menyebutkan bahwa

    • Tidak ada sesuatu apapun.
    • Seandainya sesuatu itu ada, maka ia tidak dapat dikenali.
    • Seandainya pun ia dapat dikenali, maka pengetahuan tentangnya tidak dapat disampaikan kepada orang lain.

    Sangat sulit untuk memahami apa yang sebenarnya titik permasalahan yang ingin dikemukakan oleh Gorgias ini. Dari statemen ini saya ragu, apakah yang ia maksudkan adalah bahwa tidak ada satu hal pun yang akan bisa diketahui manusia atau maksud lainnya? Dalam sumber yang berbeda pun disebutkan bahwa ketika Gorgias meninggalkan filsafat dan beralih ke retorika, ia menyatakan bahwa ada perbedaan nilai yang jelas antara satu manusia dengan yang lainnya. Suatu hal yang dianggap berharga oleh wanita, belum tentu dianggap berharga oleh laki-laki. Dari sana kemudian ia berangkat untuk menyimpulkan betapa pentingnya ilmu retorika yang berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi seseorang yang berbeda persepsi dengannya, sehingga orang-orang tersebut dapat menerima argumentasinya.

    Hippias. Tokoh Sophis lainnya, yang hidup pada zaman Sokrates. Tidak begitu jelas berapa lama ia hidup pada zaman itu, dikarenakan sumber saya yang kurang. Inti dari ajarannya sedikit berbeda dengan dua tokoh sebelumnya. ia menyebutkan bahwa hukum harus disusun berdasarkan kodrat manusia dan bukan berdasarkan adat (nomos) yang dianggap relatif oleh Protagoras dan kebanyakan kaum Sophis yang lain. Ia lebih menekankan keuniversalan manusia yang menganggap bahwa manusia semuanya adalah sama derajatnya, atau lebih dekat kepada kosmopolitisme.

    Beberapa tokoh Sophis dengan pemikiran-pemikirannya masih banyak lagi yang belum bisa dituliskan disini. Kebanyakan dari mereka hampir sama dalam pandangan mereka terhadap manusia dan alam, masih berfikir relatif. Dari peran dan pergerakan mereka yang radikal di Athena saat itu, secara otomatis membentuk atau setidaknya meninggalkan bekas terhadap dogma-dogma yang berkembang di kemudian hari. Sebuah revolusi intelektual yang sama sekali berbeda dengan masa sebelumnya.

  2. Perjalanan Sokrates Di Tengah-Tengah Kaum Sophis
    Sokrates adalah tokoh sentral dalam melawan virus-virus Sophis yang tengah menjalar hebat di tengah-tengah masyarakat Athena pada saat itu. Dia memiliki sikap anti-Sophis disaat kaum Sophis tengah berkembang di Athena. Menurut jejak-jejak sejarah, Sokrates lahir pada tahun 470 sebelum masehi. Sebelum saya menjabarkan panjang lebar tentang Sokrates, mungkin perlu diadakan kajian yang lebih mendalam tentang eksistensi Sokrates ini sendiri. Apakah Sokrates benar-benar ada atau tidak? Pertanyaan ini muncul setelah saya membaca fragmen yang mengatakan bahwa Sokrates hanyalah ada di dialog-dialog yang tertulis di buku-buku karangan Plato, yang katanya murid dari Sokrates sendiri. Sokrates sendiri tidak pernah menulis satu karya pun semasa hidupnya. Lalu darimana kita bisa tahu jika Sokrates itu benar-benar ada? Di dalam buku Socrates Cafe  karangan Christophers Phillips mengatakan bahwa Plato, disamping ia seorang filosof besar, ia juga seorang ahli drama, penyair, dan pencerita. Bisa jadi Sokrates hanyalah tokoh fiktif yang dikarang oleh Plato hanya untuk menguatkan teori-teorinya.Kemungkinan itu bisa saja terjadi, namun perlu mendapatkan perhatian lagi, meskipun Sokrates tidak mengarang satu buku pun, namun keberadaannya selain dapat banyak ditemukan dalam dialog-dialog Plato, ia juga dapat ditemukan dalam beberapa fragmen yang tertulis di karya-karya Aristophanes, Xenophone, dan Aristoteles. Selain itu, mungkin bagi umat islam mengakui kenabian dan keberadaan nabi muhammad adalah sebuah keniscayaan dan kewajiban. Namun darimana kita sebagai umat islam tahu bahwa nabi muhammad itu benar-benar ada, sedangkan beliau tidak pernah mengarang satu buku pun? Begitu juga yesus. Yesus tidak pernah meninggalkan satu karya pun dalam hidupnya. Hal ini tentu berdampak kepada apakah firman-firman yang dinyatakan oleh Matias dan Lukas itu merupakan perkataan dari yesus? Hal inilah yang juga berlaku kepada sokrates, meskipun saya tidak bermaksud menyamakan mereka. Sokrates ada. Ya, ia ada dan pernah ada berkat tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh Plato dan kawanan filsuf lainnya.

    Sokrates hidup sezaman dengan kaum Sophis. Ia juga termasuk dalam jajaran filosof alam, yang memusatkan perhatiannya pada alam dan manusia. Meskipun hidup sezaman, Sokrates tidak bisa atau bahkan bukan bagian dari kaum Sophis (meskipun ada beberapa buku yang menyatakan bahwa Sokrates adalah tokoh sophisme terakhir), karena beberapa perbedaan. Jika kaum Sophis mengaku sebagai orang yang pandai dan bijaksana, Sokrates sebaliknya. Ia sangat rendah hati dan tak jarang ia menampilkan dirinya layaknya orang yang tidak berpengetahuan, atau seperti orang yang selalu ingin belajar dari setiap orang. Menurut saya, mungkin ini adalah sebuah taktik atau strategi pendekatan yang sangat efektif melihat penyebaran Sophis yang sedang gencar-gencarnya. Dalam menyebarkan pemikirannya, ia berkeliling kota Athena untuk berdiskusi dengan orang-orang yang menarik untuknya diajak berdiskusi. Hal yang paling menarik dan menakjubkan dari seorang Sokrates adalah, ia tidak pernah menggurui orang yang diajaknya berdiskusi. Akan tetapi ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan seakan-akan ia tidak mengetahui apa-apa tentang hal itu. Dalam diskusinya, ia sering membuat lawan bicaranya mengakui kelemahan argumen-argumen yang mereka pertahankan selama ini, hingga akhirnya menyadari apa yang benar dan apa yang salah. Ia menganalogikan dirinya sebagai seorang bidan. Bidan tidak mengeluarkan atau melahirkan anak sendiri, melainkan ia membantu kelahiran seorang anak. Berangkat dari analogi inilah Sokrates menganggap pemahaman yang benar harus ditanamkan untuk kemudian mendapatkan pengetahuan tentang benar dan salah dari diri seseorang. Artinya, kemampuan yang merupakan ciri alamiah akan berlaku sama dengan kemampuan akal yang jernih untuk melahirkan konsep tentang benar dan salah.

    Filsafat yang paling ditekankan pada masa hidupnya adalah tentang masalah etika. Ketika kaum Sophis selalu meneriakkan ajaran relativisme, yang meyakini ukuran segala sesuatu adalah manusia dan tidak ada hukum maupun aturan yang mutlak, Sokrates datang untuk memberikan antitesis yang berisi bantahan-bantahan terhadap hal tersebut. Sokrates mengatakan bahwa ada kesopanan alamiah atau hukum yang berlaku secara universal. Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat atau kesusilaan. Etika bisa disebut dengan filsafat moral, karena moral sendiri berasal dari kata  “Mos” yang juga berarti adat/kebiasaan. Memang ada persamaan antara keduanya jika ditilik dari segi makna, namun penerapannya sedikit berbeda. Moral lebih identik kepada tindakan-tindakan yang sedang dilakukan oleh masyarakat, sedangkan etika adalah pengkajian terhadap nilai-nilai yang sudah berkembang di tengah-tengah masyarakat sejak dulu. “Budi adalah Tahu” kata Sokrates. Dan ini adalah inti dari etika Sokrates. Dalam buku Alam Fikiran Yunani karangan M.Hatta disebutkan bahwa orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etikanya itu kelanjutan dari pada metodenya. Induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta keinsyafan moril tidak boleh tidak mesti timbul dari budi. Oleh karena itu budi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik.

    Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala barang yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup manusia. Sokrates bahkan mengungkapkan bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berbuat kejahatan atas dasar kemauan dan kehendaknya sendiri. Sekilas tampak membingungkan akan apa yang dimaksud oleh Sokrates. Banyak orang di mana pun ia berada akan melakukan kejahatan atas dasar kemauannya sendiri, bahkan ia sendiri sudah mengetahui efek baik dan buruk yang akan terjadi jika ia melakukannya. Namun setelah saya membaca lebih banyak tentang Sokrates, akhirnya mendapatkan sedikit apa yang dimaksudkan tentang tidak ada seorang pun yang berbuat kejahatan sesuai dengan kehendaknya. Sokrates menilai bahwa pengetahuan yang mendalam terhadap sesuatu akan menghasilkan sesuatu yang baik pula saat diaktualkan. Orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang tidak tahu. Meski ia tahu betul akan dampak apa yang dihasilkan dari tindakannya. Akan tetapi pengetahuannya hanyalah sebatas kulit luarnya saja. Mungkin orang-orang modern akan menginterpretasikan kehendak sebagai sesuatu yang bersifat sains dan pemahaman intelektual, namun kenyataannya Sokrates lebih menekankan aspek prilaku yang mengandung emosi dan kesadaran irasional. Jadi akan cukup adil saat seseorang yang tidak tahu akan emosi atau kesadaran irasionalnya akan berbuat apapun yang ia inginkan, meski ia tahu betul akan dampak yang akan diakibatkan. Bahkan jika sedikit ditelusuri lebih mendalam, karena setiap orang memiliki tujuan yang hakikatnya sama, yaitu untuk kebaikan, maka cara atau metode yang diekspresikan tentu akan berbeda. Ada yang merealisasikan tujuannya dengan cara yang baik (karena pengetahuan dan pemahaman rasional dan irasional) dan ada yang merealisasikannya dengan cara yang tidak baik (kurangnya pemahaman terhadap kesadaran rasional dan irasional).

    Dari sekian penjelasan ini, Sokrates hanya ingin mengkritisi atau bahkan membabat pemikiran Sophis yang malah membimbing masyarakat Athena untuk buta akan kebaikan universal yang diracuni oleh argumentasi-argumentasi yang serba dibolak-balikan. Ia datang untuk mengembalikan manusia sadar akan fitrah kebenaran yang sudah dimiliki oleh mereka masing-masing, meskipun ia cenderung kepada aliran rasionalisme. Pada akhirnya ia mati karena aktivitas filsafatnya sendiri. Para politikus yang tidak suka melihat pemikirannya, akhirnya sepakat untuk menjebaknya dengan menyebarkan isu bahwa Sokrates telah menyebarkan ajaran-ajaran agama yang sama sekali berbeda dengan ajaran dewa sebelumnya. Kemudian pada tahun 399 SM, pemerintah Athena menjatuhi hukuman mati kepadanya, yang akhirnya dieksekusi oleh dirinya sendiri dengan minum racun cemara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s