Ku Bawa Cinta Ini Menghadap Tuhan Part I

senyuman-1024x6401Senyum Kesedihan

“Aaaaaaaaarrghhhhhh……….tolong aku!!”. Kali ini waktu seolah tak mau berkompromi denganku. Terus dan terus terasa lamban. Seiring dengan itu berlalu, makhluk yang sejak tadi terus mengaum dengan air liurnya yang terlontar ke arahku masih terus mengejar jasadku yang terus berlari, tanpa menghiraukanku yang tertatih-tatih hampir kehabisan nafas. “jangaaan..kumohon jangan bunuh aku kawan.! Coba lihat, tubuhku kecil dan kurus kering, dagingku mungkin tak akan mampu membuatmu kenyang kawan. Ayolah . . .!” aku masih berusaha meyakinkan binatang itu. Kali ini ia mampu terdiam dan berhenti mengejarku. Seolah mencerna bahasa yang aku lontarkan padanya. “Huuufffhhttt…….hampir saja!” kataku dalam hati.

Meyakinkan diriku bahwa saat ini makhluk itu tengah mengartikan kata-kataku. Sejenak kuperhatikan sosok itu. Wajah yang abstrak. Hanya dua bola mata seukuran globe menyala-nyala dengan empat kaki yang kufikir lebih layak jika dimiripkan dengan seekor laba-laba yang ada di film spiderman yang kutonton dilayar kaca akhir-akhir ini. Namun, saat ini semua itu terasa sangat nyata dan begitu konyol. Berdiri didepan makhluk yang fiktif menurutku. Karena kufikir hal itu mustahil terjadi. Tubuhnya yang hitam pekat, seolah menampakkan keserasiannya dengan mata merahnya itu. Sejenak aku bisa menikmati kekagumanku pada makhluk itu. “siapa kau? Apakah kau nyata?” bisikku dalam hati. Belum sempurna kumeresapi semua itu, tiba-tiba kemudian keadaan mulai berbalik dari perkiraanku. Makhluk itu menampakkan mukanya yang garang, seolah marah atas apa yang aku ucapkan tadi. Gemertak giginya mulai terdengar, langkahnya kembali megguncang tanah yang aku injak. Sepertinya aku harus kembali bertarung dan memacu langkahku untuk menghindari terkaman makhluk mengerikan ini. Kali ini kupacu lagi langkahku. Mungkin saat ini, ia akan lebih bersemangat lagi mengejarku, karena tahu bahwa korbannya sudah tak sanggup lagi berlari lebih jauh. Nafasku mulai terputus-putus, tak terkendali. Dan kakiku pun mulai terasa kaku untuk kulangkahkan lebih jauh. Tiba-tiba aku sadar makhluk itu sudah berada didepan mataku. Aku tertanduk dan terlempar jauh hingga masuk kedalam sebuah lubang hitam tak berujung.

“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak. . . . . “ jeritku histeris.

Kuarungi sebuah kegelapan yang terasa ganjil. Seolah aku berada disebuah pertualangan seru, yang aku saat ini ditakdirkan menjadi seorang petualang pencari kehidupan di alam lain yang jauh dari kehidupan manusia. Tapi tiba-tiba perlahan semua memudar. Apa yang tadi yang kulihat hitam pekat, pelan-pelan mulai memutih, berwarna, bergoncang, dan,

“Sayang…bangun,,bangun udah waktunya sholat subuh. Ayo nak digerakin badannya, biar gak ketinggalan sholat berjamaah sama ayah. Ayah aja udah wudhu’ tuh”,

suara itu menggema di alamku saat ini dan membawaku berpindah cepat dari tempat mengerikan itu menuju ke sebuah dunia yang lebih berwarna. Kulit itu masih terus mengelus-elus dan menghangatkan kakiku yang masih terasa kaku setelah melakukan perjuangan di alam yang entah alam apa itu. Sejurus cahaya pun mulai merasuki pandanganku, membuat silau pandangan yang baru saja kuterima. Pelan namun pasti, aku akhirnya bisa membuka mataku. Cahaya yang masih redup, membuat mataku masih belum bisa menerima keadaan yang ada disekitarku. Ditengah semua itu, samar-samar kulihat bayang-bayang wanita paruh baya duduk tepat diatas kepalaku. Aku bisa menebak itu adalah wanita yang selama ini terus membuatku menjadi nomor satu dalam hidupnya. Ia yang terus memperjuangkan hidupku, mulai aku terkulai lemah tak berdaya dalam pelukannya hingga aku bisa menjadi seorang yang kuat untuk menjadi harapannya kelak. IBU, ya benar, dialah seorang ibu yang telah mati-matian memperjuangkan segalanya untuk aku, anaknya. Belaian kasih sayangnya selalu tercurah kapan pun aku membutuhkannya. Tangannya selalu menopang hidupku. Dan kakinya menggiring langkahku menuju sebuah jalan yang selalu ia ajarkan padaku. Dimulai dengan kalimat bissmillah, ia ikhlaskan semua pengorbanannya demi mutiara hatinya.
Mimpi, sontak hatiku berbisik. Satu dari sekian banyak imajinasi yang pernah timbul di alam sadarku. Namun, aku bersumpah tidak ingin mengalami mimpi seperti itu lagi.
“Aku mimpi ya Ma?” tanyaku kemudian. Sejenak kubisa menikamati tuk menatap wajahnya yang mulai memudar terhapus usia. Tapi meski begitu, senyum yang telah ia tampakkan membuatku begitu yakin bahwa ia akan selalu hidup untuk menemani alur hidupku.
“Mimpiin apa sih anak mama sampai teriak-teriak gitu? Kayak dikejar-kejar setan aja.” Tanyanya lembut.
“Gak kok Ma, cuma mimpi buruk aja”, jawabku tenang.
“Pasti gara-gara film yang kamu tonton tadi malam ya? Mama lihat kamu masih nonton sampai jam 11 tuh. Ayo ngaku…!” tanyanya dengan nada becanda.
“hiiii….”, kujawab dengan senyum kecil.
“ya sudah, cepat bangunnya, biar dapat shalat berjamaah sama ayah. Mungkin Ayah udah nunggu kamu tuh di tempat sholat.” ,lanjutnya.
“Ya, Ma”.jawabku
Tak lama kemudian, aku langsung memaksa badanku untuk bangkit dari semua rasa kantuk yang masih terus menyerang. Kugerakkan seluruh bagian tubuhku, kulakukan olahraga kecil, sebelum akhirnya kulangkahkan kakiku satu persatu. Meski berat, aku tetap meyakinkan hati dan perasaanku bahwa inilah kewajibanku sebagai seorang muslim.

—————o0o—————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s