Ku Bawa Cinta Ini Menghadap Tuhan Part 2

senyuman-1024x6401..Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang….(Q.S 90:17)

Namaku Alim. Saat ini usiaku 18 tahun. Aku memiliki postur tubuh yang kurus dengan tinggi hanya 165 cm. Aku terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, tidak kurang dan tidak lebih. Sejak kecil aku hidup ditempat ini. Meski hanya sebuah desa di pinggiran kota, namun itu tak membuat hidupku terbatas pada keadaan sekitar, dan aku selalu mencari apa yang seharusnya aku temukan. Ya, mungkin sebuah jati diri.

Jam dikamarku menunjukkan pukul 05.50, dan dipojok kamar, diatas hamparan sajadah, sejenak kuhentikan bacaanku dan kurenungkan makna yang tersirat dibalik ayat yang baru saja terucap dari bibirku itu. Ada sebuah pesan kuat yang mengindikasikan sebuah perintah untuk saling membangun kasih sayang antara satu orang dengan yang lain. Tapi sepertinya ayat ini membuat fikiranku langsung menggambarkan seseorang yang ada di suatu tempat disana. Meskipun ku tahu bahwa makna ayat itu jauh lebih umum dari yang ku fikirkan saat ini.

Tiiit . .  .tiiit. . . ku diam sejenak, sepertinya ada sebuah suara tak asing di telingaku. Titt..tiii..tittt… suara itu masih terdengar. Aku bangkit dan mencari sumber suara itu. Dan tidak menunggu waktu lama, karena beberapa langkah kemudian aku menemukannya. Ternyata dering SMS dari handphone yang kutaruh di meja yang terletak di samping ranjang tidurku. Meski sempat membuyarkan konsentrasiku, tapi aku tetap bergegas untuk meraih benda itu. Mungkin ada hal penting yang dikirimkan dalam pesan itu, sehingga pengirim harus mengirimkannya sepagi ini. Tanganku mulai meraihnya dan berhasil membuka SMS itu.

From     : AdeQ Cynk

09 – 08 – 10         06.00 AM

Asqum..met pagi ka’. .

ka’ ntar kita ketemunya di GOR aja ea, soalnya adik bawa motor sendiri. Maaf ea ka’, adik gak bisa boncengan bareng ama kaka’, biar ntar adik gak ketahuan ma yang laen..kali lagi maaf bgt ka’!

 

“hufffttt. . . . . .” desahku dalam hati. Aku baru ingat kalau hari ini aku akan bertemu seseorang yang sangat spesial untukku. Yuppz…lebih tepatnya pacarku. Akan tetapi, pertemuan kali ini aku rasa akan berbeda dari biasanya. Sebelum memikirkannya lebih mendalam, aku beranjak dari tempatku semula. Kulangkahkan kakiku untuk sekedar membuka jendela yang sejak tadi masih tertutup, dan hawa dingin diluar pun sepertinya sudah tak sabar ingin masuk dan menyapaku.

Jendela sudah kubuka. Angin pagi dengan kesegaran yang khas pun menyapu seluruh permukaan tubuhku yang menghadap keluar. Aku menerawang jauh lebih dalam di kesunyian pagi ini. Fikiranku masih belum bisa terlepas dari apa yang sejak tadi aku fikirkan. “mengapa hari ini harus terjadi? ” kataku dalam hati. Fikiranku menerawang kejadian beberapa hari lalu, saat seperti biasa dan seperti malam-malam yang lain aku selalu meneleponnya untuk sekedar melepas rindu atau membicarakan tentang hubunganku dengannya. Saat itu, sehari sebelumnya aku sudah mengatakan kepadanya bahwa aku masih belum bisa menentukan kemana aku akan melanjutkan kuliah, setelah beberapa hari lalu aku mendapat kepastian bahwa aku lulus SMA tahun ini. Tapi hari itu telah mengubah sejarah hidupku kedepan. Saat seusai shalat dzuhur aku mendapatkan SMS dari perguruan tinggi yang pernah mengadakan seleksi beasiswa di sekolahku, dan ternyata aku lolos. Ada rasa senang yang terhingga didalam hatiku. Karena saat itu aku sudah tidak tahu lagi harus melanjutkan kuliah dimana, ditengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluargaku. Bukannya lepas tanggung jawab, namun ayahku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari tambahan agar aku bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan hari itu benar-benar membuat keluargaku bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya, aku yang sudah mati-matian mencari jalan bagaimana caranya agar aku bisa kuliah ditempat yang aku inginkan, hasilnya nihil. Sudah berbagai macam seleksi beasiswa aku ikuti, namun dengan keterbatasan ilmu yang ada padaku, menjadi sebuah tabir penghalang yang besar untuk kelangsungan pendidikanku saat itu. Tapi Alhamdulillah tuhan masih memberikan satu jalan untukku, meskipun jurusan yang aku peroleh jauh dari perkiraanku. Bagaimana tidak, dua tahun aku belajar seluk beluk tentang dunia IPA dan aku yang saat itu berkeinginan menjadi seorang guru biologi, harus melanjutkan kuliah yang hanya memiliki jurusan tafsir hadits dan filsafat islam. Tapi, aku mencoba meyakinkan diriku, bahwa inilah jalan hidup yang harus aku jalani. Disamping rasa senang yang aku rasakan saat itu, ternyata jauh didalam lubuk hatiku terdapat goresan kesedihan, karena jika aku melanjutkan kuliahku di tempat itu, aku harus meninggalkannya, dan kami akan terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Sejenak ku berfikir mungkin aku harus merahasiakan ini terlebih dahulu darinya agar nantinya hubunganku tidak terjadi apa-apa dikarenakan hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s