Ku Bawa Cinta Ini Menghadap Tuhan Part 3

senyuman-1024x6401Sudah hampir lima jam aku mengobrol dengannya melalui handphone yang kugenggam malam itu. Selama lima jam itu pun tidak ada topik yang terlalu special yang bisa kubahas dengannya, sebelum saat ia menanyakan lagi tentang kemana aku akan melanjutkan pendidikanku. “Gimana kak? Kakak udah nentuin mau ngelanjutin kemana? Gimana dengan hasil beasiswanya kak?” tanyanya. Deg. . jantungku berdetak tak karuan, rasanya aku ingin cepat-cepat memindahkan jemariku untuk memencet tombol merah di handphoneku dan tak ingin mendengar pertanyaan itu lagi. Aku terlalu takut dan sedih kehilangan dirinya. Ia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Cinta dan kasih sayang yang aku berikan kepadanya, tak pernah aku rasakan dan aku berikan sebelumnya kepada orang lain. Jadi sah-sah saja jika aku merasakan demikian. Tapi malam itu aku tidak tega membohongi orang yang sangat aku sayangi. Aku terdiam membisu. Meskipun berat, ini harus aku katakan.

“Adik, kakak mau bilang sesuatu, adik jangan cepet-cepet ngambil kesimpulan ya setelah kakak bilangin ini ke adik!” kataku.

“Ya allah kak, mau bilang apa sih, kok kayaknya serius gitu! Insya Allah adik gak bakal ngambil kesimpulan tanpa ada persetujuan kakak,” Katanya.

“Bener Dik?”tanyaku lagi.

“Iya sayang.”

“Adik, kakak udah dapet info kalo kakak gak keterima di beasiswa pondok tuh, kakak juga gak bisa ngikutin ujian SNMPTN tahun ini, soalnya kakak salah masukin wilayah perguruan tinggi yang diminta. Terus mau ngulang lagi daftarnya, tapi uang kakak udah abis, ortu kakak juga lagi gak punya uang dik,” Kataku. Meskipun saat itu hatiku perih untuk mengungkapkannya, namun hanya itulah pilihannya, daripada nantinya hal yang lebih buruk bisa saja terjadi.

“Terus gimana kak? Kakak gak kuliah?” tanyanya lagi. Sepertinya ia masih penasaran dengan apa yang akan aku katakan.

“Bukannya gitu juga Dik, kakak juga gak mau buat adik kecewa dengan kegagalannya kakak, pasti nantinya adik bakal malu punya pacar yang gak kuliah. Dan kakak gak mau itu terjadi,” lanjutku.

“Terus mau gimana lagi Kak kalo emang udah kayak gitu. Mungkin aja adik bisa menerima semuanya tuh,” suaranya memelas.

“Gak Dik, justru bukan itu yang ingin kakak bilang ke adik kali ini.”kataku.

“Lho terus apa Kak?” tanyanya lagi.

“Mungkin adik gak tau dan kakak gak bilang kalo dua minggu lalu kakak ikut seleksi beasiswa yang diadain sebuah perguruan tinggi di sekolah. Alhamdulillah kakak lolos Dik,” kataku.

“Alhamdulillah,,ternyata itu toh yang mau kakak omongin ke adik, bikin tegang aja,”jawabnya.

“Emang Adik udah tau kakak masuk di perguruan tinggi mana?” tanyaku.

“Kan kakak belum bilang tuh sama adik. Emang dimana Kak?” lanjutnya.

“Kakak diterima di The Islamic College Jakarta, Dik,” jawabku. Dan disaat bersamaan hatiku terasa mencair karena panasnya kata-kata yang baru saja terucap lewat mulutku itu.

Suasana hening tanpa suara. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang bersahutan disana-sini, serta deru satu dua  kendaraan yang melintas di jalan raya di depan rumahku. Aku tidak bisa mengartikan diamnya saat itu. Sebuah bentuk kebanggaan ataukah sebaliknya. Ataukah dia merasa akan ditinggalkan oleh kekasih yang sebelas bukan belakangan ini selalu memberikannya perhatian.

“Kak, kok jauh banget? Terus adik gimana disini?” suaranya melemah. Sepertinya dugaanku bahwa ia akan meresponnya seperti ini nyaris saja tepat.

“Sayang, kakak juga gak mau ini terjadi, tapi mau gimana lagi Yang, kalau kakak gak kuliah bisa saja kakak bakal dimasukin ke pesantren sama orang tuanya kakak, dan kalo tuh terjadi otomatis kita bakal gak bisa komunikasi, soalnya di pesantren gak boleh bawa bawa HP kayak gini sayang,” kataku mencoba untuk meyakinkan dirinya.

“Berarti adik gak bisa sering-sering ketemu kakak dong kak?” tanyanya lagi. Suaranya masih saja terdengar lemah, pasrah oleh keadaan yang kami hadapi.

“Adik jangan ngomong gitu dong, kan kita bisa komunikasi lewat HP,” jawabku. Rasanya malam itu aku sudah hampir kehabisan akal untuk meyakinkan dirinya. Dan harapan tetap, yaitu aku tidak ingin hubunganku hancur gara-gara masalah jarak yang bakal aku hadapi ini.

“Tapi adik kan bisa pegang Hp-nya Cuma pas libur sekolah aja. Gimana hari-hari lainnya kak?”

Aku terdiam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s