Ku Bawa Cinta Ini Menghadap Tuhan Part 4

“Ya udah sayang, kayaknya kita gak bisa bicarain ini lewat handphone. Besok kan tanggal jadian kita yang ke-duabelas tuh. Kita juga udah ada rencana main ke Gelar kan? Nah ntar disana deh kakak kasih penjelasan ke adik. Udah hampir jam empat subuh nih, bobo yuk, biar gak begadang, ntar adik sakit lagi, ya sayang!” kataku

“Ya deh kak” jawabnya.

“Met bobo ya sayangku, kakak sayaaang sama adik, love you sayang. Have a nice dream,” kataku sebelum mengakhiri pembicaraan malam itu.

“Ya kak, adik juga sayaaang sama kakak. Love you too sayang. Met bobo juga ya sayang,” jawabnya.

“Assalamua’alaikum,” kataku mengakhirinya.

“Wa’alaikum salam,” jawabnya sambil kemudian mematikan handphone.

Sunyi. Malamku pun kembali sepi. Dan binatang malam kembali memainkan musik alam pengantar tidur.

——————o0o——————

“Alim, udah selesai belum? sini sarapan bareng dulu, Nak!”seru ibuku.

Sepertinya pagi ini keluargaku siap memulai aktivitasnya. Meski hanya sebuah keluarga kecil, namun kami selalu bersemangat untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan kerja keras. Aku segera bergegas keluar kamar dan berjalan menuju ruang makan. Disana ku temukan mereka sudah siap untuk bertaruh dengan profesinya masing-masing. Meskipun di ruang ini yang terlihat hanya tiga orang, namun sejatinya keluargaku ini memiliki lima anggota keluarga. Aku, ayah dan ibu serta dua adikku, dan aku adalah anak tertua di keluarga ini. Meskipun dua adikku tidak terlihat di meja makan pagi ini, namun bukan berarti mereka tidak memiliki aktivitas apapun. Adikku yang tertua sekarang sedang menjalani pendidikan formal dan informalnya di sebuah pesantren. Sedangkan adikku yang paling kecil dia belum cukup usia untuk mengenyam bangku pendidikan.

“Gimana kelengkapan syarat-syarat yang diajukan kampus yang kamu dapat tuh Lim? udah kamu lengkapin semua? Tanya ayahku, seraya memecah keheningan pagi ini.

“Belum yah, tinggal dikit lagi. Insya Allah ntar aku urus semuanya. Tenang aja yah, semua pasti beres.”jawabku mantap.

“Bagus lah kalau begitu. Maafin ayah ya nak, ayah gak bisa memberikan hal yang terbaik buat kamu.”

“Gak kok Yah. Aku tahu Ayah udah berbuat banyak demi kelangsungan pendidikanku. Seharusnya aku yang berterima kasih sama Ayah. Kalau bukan hasil kerja keras dan doa Ayah, langkahku gak mungkin bisa sampai disini.”

Ayah tidak menyambung lagi percakapannya. Dari sudut ini bisa kulihat wajah Ayah yang menyisakan sebuah kesedihan atas segala usaha yang sebelumnya pernah beliau lakukan. Wajahnya yang mulai termakan oleh usia membuatku iba atas semua yang telah ia lakukan. Saat ini, seharusnya akulah yang menjadi tulang punggung harapan bagi keluarga, bukan malah sebaliknya seperti ini.

“Ya aku minta doanya aja dari kalian semua, semoga aku disana bisa mendapatkan ilmu yang barokah dunia akhirat.” sambungku kemudian.

“Aminn.” Jawab ibu dan Ayahku hampir bersamaan.

“ Ya udah, habisin dulu makanannya Lim, ntar keburu dingin malah gak sarapan lagi. Ayo Yah dimakan juga tuh sayurnya, biar tambah seger.”kata ibuku.

Aku pun tak menunggu waktu lama untuk mencerna perintah itu, karena perutku sebelumnya memang sudah tidak sabar ketika melihat sayur asem dihidangkan bersama sambal tempe dan Ayam goreng. Tanganku pun langsung menyilang kesana kemari untuk meraih semua makanan itu. Dan saat-saat berkumpul seperti inilah kemudian membuat pagiku terasa indah.

——————o0o——————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s