Keindahan Itu Bernama Perbedaan

Sebulan yang lalu, kala itu tepat seminggu menjelang perayaan hari raya Idul Fitri 1434 H. Ketika hari raya seperti ini tiba, hal yang paling sering disoroti selain baju baru adalah kue lebaran. Kue lebaran mungkin telah menjadi gengsi tersendiri di kalangan masyarakat ketika menyambut perayaan hari raya yang jatuh dua kali dalam setahun itu. Mereka berlomba-lomba membuat, membeli dan menghias kue lebaran dengan model seunik dan secantik yang mereka mampu. Begitu juga aku. Kali ini bajuku sudah kotor dengan bekas tepung dan telur disana-sini. Di sudut dapur pun beberapa panci dan baskom tergeletak tak berdaya setelah kugunakan untuk mengadoni beberapa adonan yang aku perlukan. Aku kadang menghela nafas, lelah, berharap beberapa jam kemudian aku dapat menghasilkan bentuk dan jenis kue yang aku inginkan. Singkat cerita, beberapa jam kemudian kue yang aku buat sudah memenuhi beberapa toples yang aku sediakan. Aku sengaja membuat kue itu berwarna-warni. Kadang di satu toples terdapat dua sampai tiga warna kue yang berbeda, atau kadang lebih. Mereka terlihat sangat cantik, ditambah dengan toples manis yang sengaja aku pesan untuk jenis kue seperti ini. Dari sinilah aku melihat indahnya sebuah permainan warna. Aku tak menyangka bahwa ternyata memang variasi warna itulah yang aku perlukan untuk membuat kue lebaranku terlihat semakin menarik. Aku coba membayangkan jika toples-toples itu hanya berisi satu warna kue, tentu ia tidak akan menarik perhatian bukan? Meskipun aku sudah menempatkannya dalam toples-toples yang begitu manis.

Replika Indonesia seperti inilah yang kita butuhkan. Negara ini sudah terbungkus oleh hijaunya zamrud khatulistiwa dengan kekayaan alam yang terhampar luas di sepanjang pangkuan ibu pertiwi. Untuk menjadi sebuah negara yang maju, negara kita sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan berbagai ahli dan pakar kenegaraan dari luar negeri atau berbagai macam konsep ketatanegaraan hanya karena ingin meniru negara yang sudah berhasil menyabet masa emasnya. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini hanya satu, yaitu bangsa yang bisa menghargai perbedaan. Coba anda tanyakan pada diri anda sendiri, atau anda bertanya kepada lingkungan bahkan kepada masyarakat tempat anda bernaung, “Sudahkah anda, kita atau mereka menghargai sebuah perbedaan?”. Pertanyaan mendasar seperti itulah yang harusnya bisa menjadi titik awal untuk menyadarkan dan menjadi titik tolak bangsa ini menjadi lebih baik. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh untuk kasus seperti ini. Lihatlah masyarakat sekitar anda. Apa yang terjadi ketika ada sebuah hal asing masuk di tengah-tengah mereka? Apa yang mereka lakukan ketika ada budaya, bahasa, pola pemikiran baru masuk ke tengah-tengah mereka? Apakah mereka akan mengucilkannya, atau mungkin bahkan tidak memberikan kesempatan lebih hal asing tersebut berkembang di tengah-tengah mereka. Jika iya, hal inilah yang sebenarnya tengah marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Bangsa ini sudah mulai terjangkit penyakit infeksi anti perbedaan. Namanya infeksi, jika tidak segera diberikan vaksin atau cairan penetral, maka akan terjadi sebuah kebuntungan dan borok. Oleh karena itu, tugas kita adalah mulai mencari vaksin untuk mengobati penyakit yang jika dibiarkan mengendap akan terus menggrogoti harmonisme bangsa yang seharusnya bisa kita jalin tersebut.

Perbedaan pada hakikatnya tidak bisa secara subjektif dikonotasikan negatif. Jika perbedaan merupakan hal yang buruk, tentu kita kan memandang alam semesta beserta isinya merupakan hal yang buruk, karena ia terdiri dari bermacam-macam warna, bentuk, dan fungsi. Bahkan, Alquran pun sebenarnya telah menyebutkan secara gamblang tentang niscayanya sebuah perbedaan. Seperti yang disebutkan di dalam surat Yunus ayat 19, yang berbunyi, “Manusia pada dahulunya merupakan umat yang satu, kemudian mereka berbeda-beda”. Tanpa dijelaskan oleh Alquran pun sebenarnya secara fitriah manusia mampu membedakan yang mana yang baik dan buruk. Hanya saja berbagai pengaruh eksternal pada akhirnya meredupkan kemampuan fitriahnya. Jika saja manusia mau membuka mata, mereka pada dasarnya memerlukan perbedaan. Apa yang terjadi jika semua yang ada di muka bumi ini sama? Sama wajah, nasib, keturunan, dan segala hal yang menyangkut manusia itu sama. Tentu hal ini akan menimbulkan sebuah kejenuhan dan kebosanan. Atau coba saja anda diam di tengah gurun pasir, yang sepanjang mata memandang tidak ada satu pun pepohonan maupun bebatuan yang  dapat anda lihat, hanya gurun pasir yang coklat kekuning-kuningan. Meskipun bekal makanan yang anda bawa cukup untuk mengatasi rasa lapar, anda tentu tidak dapat mengatasi ketika rasa bosan dan jenuh menghampiri anda, hanya karena tidak melihat sesuatu yang berbeda dari yang biasa anda lihat. Contoh lain adalah, jika dunia ini hanya diisi oleh wanita saja atau laki-laki saja, mungkinkah manusia generasi selanjutnya akan tetap hidup? Sudah pasti tidak, manusia terlahir hasil dari pertemuan laki-laki dan wanita. Dari contoh-contoh kecil ini, sudah seharusnya manusia menyadari bahwa perbedaan bukanlah hal yang sepatutnya dipertentangkan. Dewasa ini, banyak tindak kekerasan, penghinaan, pencaci-makian atas nama kelompok dan golongan tertentu yang dilancarkan terhadap kelompok yang berbeda dengannya. Hanya karena berbeda sebuah team sepak bola kesayangan, banyak pemuda yang saling membunuh. Hanya berbeda agama, banyak tindakan kekerasan yang dianggap sah untuk menyakiti dan menindas agama lain. Bahkan ketika sudah berada di dalam suatu agama, hanya karena berbeda madzhab dan pemikiran, banyak orang yang melancarkan caci maki dan tindakan-tindakan keji yang tidak sepantasnya dilakukan dalam kaitannya dengan perbedaan. Jika hal ini terus dipupuk, maka infeksi anti-perbedaan akan meluluhlantahkan bangsa ini. Slogan Indonesia yang indah dengan keberagamannya, mungkin akan berubah menjadi Indonesia yang hancur karena keberagamannya.

Pada akhirnya saya ingin kembali ke kisah kue-kue yan berwarna tadi. Kita sudah memiliki toples yang sangat indah bernama Indonesia. Kini tugas kita adalah membuat kue-kue yang beragam warna (yang dalam hal ini berbegai perbedaan yang ada di negeri kita) tadi tersusun rapi di dalam toples sehingga dapat memancarkan keindahan bagi siapapun yang melihatnya. (AA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s