Menyingkap Tabir “Taqdir” Di Dalam Alquran

Dewasa ini, banyak kita saksikan berbagai kalangan dengan lantang menyuarakan berbagai masalah yang mendera bangsa ini, namun pada akhirnya mengarah kepada satu hal. Mulai dari isu Hak Asasi Manusia (HAM), gender, demokrasi, dsb, yang pada intinya menggugat satu hal yang mulai diabaikan oleh individu-individu yang kurang bertanggungjawab, yaitu kebebasan. Pada dasarnya, kebebasan merupakan hal yang paling urgen dalam kehidupan manusia. Melalui kebebasan, manusia dapat meluaskan seluruh kehendaknya. Ketika manusia merasa kebebasannya dibatasi atau dikekang, ia secara otomatis akan menemukan kegelisahan dan berusaha untuk keluar dari keterbatasan tersebut. Hal yang paling sering kita dengar adalah manusia hidup sebagai makhluk zoon politicon, yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Konsekuensi logisnya adalah manusia tentu akan menjalani interaksi kontinuitas dengan manusia dan alam sekitarnya. Dalam menjalani kehidupan, sering kali kejadian-kejadian alam yang tidak dapat diprediksi datang menghampiri manusia, dan sedikit banyak memakan korban jiwa. Hal tersebut mau tidak mau menimbulkan sebuah rasa takut dan gelisah yang terus menghantui manusia. Mereka terus bergerak mencari jawaban yang berkaitan mengenai adanya kekuatan yang maha dahsyat yang ada dibalik setiap peristiwa tersebut. Mereka kembali benar-benar berfikir, apakah tindakan dan perbuatan yang bisa mereka lakukan merupakan kebebasan yang mutlak, atau sebaliknya, hanya merupakan skenario yang telah dirancang oleh yang Mahakuasa. Pertanyaan inilah kemudian mendasari lahirnya dua madzhab besar yang saling bertentangan, yaitu Qadariyah dan Jabariyah, yang berusaha menjelaskan tentang kebebasan manusia di depan Tuhan yang Mahakuasa, yang disebut dengan Taqdir.

Pembahasan Taqdir yang masuk dalam pembahasan teologis oleh para mutakallimin, memancing sebuah feedback dari berbagai aliran madzhab yang mencoba menjelaskan secara gamblang dan komprehensif mengenai masalah ini. Oleh karena itulah, kini kata taqdir bukan menjadi sebuah istilah yang asing di telinga kita. Bahkan sejak masih seumur jagung, kata-kata taqdir mulai diajarkan oleh para orang tua kepada anaknya. Belum lagi di sekolah mulai dari tingkat yang paling dasar hingga para teknokrat seringkali terjun di dalam permasalahan ini, sehingga bukan hal yang aneh jika masalah mengenai taqdir menyebar luas di masyarakat dengan pemahaman yang berbeda-beda, tergantung pendidikan, madzhab kalam dan sejauh mana ia mendalaminya. Pemahaman yang sederhana mengenai taqdir yaitu sebuah kehendak Allah SWT terhadap seluruh makhluk ciptaannya, yang telah dituliskan jauh sebelum manusia tersebut ada di muka bumi. Secara umum, taqdir bisa dikatakan sebagai penisbahan sebuah perbuatan atau peristiwa yang telah terjadi kepada Allah SWT, yang merupakan bagian dari bentuk pengakuan terhadap kebesaran dan kemahakuasaan-Nya.

Taqdir merupakan kata bentukan dari ق – د – ر, dengan mengikuti wazan فعّل – تفعيل. Secara bahasa, menurut kamus Al Munawwir kata قدر berarti kuasa, mempertimbangkan, memuliakan, menentukan, menetapkan, menghargai, dsb. Di dalam Alquran, kata Taqdir dan berbagai kata yang berasal dari rumpun kata قدر memiliki arti yang bermacam-macam. Setidaknya terdapat 132 kata di dalam Alquran yang memiliki keterkaitan dengan kata قدر, yang tentu memiliki arti yang berbeda satu sama lain. Namun, secara garis besar arti kata قدر dan berbagai variasinya bermuara kepada salah satu arti, yaitu membatasi, menetukan, menghargai, atau kuasa. Berikut ini terdapat beberapa contoh penerapan kata-kata di dalam Alquran yang berakar dari kata قدر.

  • Kata-kata yang berarti “membatasi”, hanya terdapat satu redaksi di dalam Alquran, yaitu,

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (الفجر:16)

  • Kata-kata yang berarti “Menentukan, Mentaqdirkan, atau Ketentuan”, terdapat sebanyak 41 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (القمر:12)

  • Kata-kata yang berarti “Menyempitkan atau Menyulitkan”, terdapat sebanyak 11 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ (الإسرء:30)

  • Kata-kata yang berarti “Menguasai”, terdapat sebanyak 68 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ (النحل:75)

  • Kata-kata yang berarti “Mengagungkan”, terdapat sebanyak 2 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا (الزمر:67)

  • Kata-kata yang berarti “Menghormati”, terdapat sebanyak 2 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ (الأنعام:91)

  • Kata-kata yang berarti “Mengambil Manfaat”, terdapat sebanyak 2 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ (إبرهيم:18)

  • Kata-kata yang berarti “Mengenal”, terdapat sebanyak 2 redaksi di dalam Alquran, salah satunya,

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيز (الحج:74)

Dari berbagai macam contoh dan penerapan taqdir di dalam Alquran, dapat ditarik sebuah benang merah, bahwa taqdir adalah sebuah kekuasaan. Menarik, jika melihat dari sudut pandang subjek yang memiliki kekuasaan, Alquran menggunakan dua jenis redaksi, yaitu menisbahkan kata  قدر secara ghaib dan menisbahkan kata قدر secara mutakallim “kami”. Telah menjadi pembahasan yang umum bahwa ketika Alquran menggunakan penisbahan secara ghaib atau mutakallim “Aku”, maka dalam hal itu Allah lah yang berperan secara langsung tanpa ada campur tangan makhluknya. Sedangkan ketika menggunakan penisbahan secara mutakallim “Kami”, maka dalam hal itu Allah dan makhluk-Nya berperan dalam mewujudkannya. Meskipun hanya sedikit redaksi قدر yang menggunakan dhomir mutakallim “Kami”, namun hal tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa sebenarnya manusia masih memiliki kesempatan untuk merubah apa yang ada pada dirinya sendiri, tanpa berpagi-pagi mengatakan bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan taqdir mutlak dari Allah SWT. Karena dalam menjalankan kekuasaan-Nya, Allah tidak semata-mata bertindak otoriter dan tidak memberikan kesempatan bagi hambanya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, berkaitan dengan hal tersebut, telah Allah suratkan dalam sebuah ayat yang semestinya menjadi sebuah acuan dan lecutan semangat bagi manusia untuk merubah dirinya menjadi lebih baik ke depannya, yaitu

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الرعد:11)

            Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (nasib) suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Ar-Ra’d : 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s