12 Februari 2014

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

12 Februari 2014. Hari itu memang berawal dengan aroma yang tidak menyenangkan. Setelah semalam menghabiskan waktu untuk memperselisihkan kelanjutan sebuah hubungan, pagi itu pun masih berlangsung kalut. Sedari pagi buta aku sudah duduk di sudut sebuah ruangan dengan meja bundar kecil di depanku. Tempat yang biasa menjadi tempat nongkrong, hura-hura, atau sekadar melepas lelah, kini tak lebih dari tempat menanti seseorang yang ku harap menjawab harapan atas sebuah hubungan yang masih hangat. Singkat cerita, pagi yang kelabu dalam beberapa jam mencair setelah perbincangan dan beberapa kesepakatan. Lelahku terbalas setidaknya untuk sementara.

Langkahku kemudian terarah ke deretan gedung yang berada di jalan pejaten raya no.19. Sebuah kampus kecil yang berada tak jauh dari tempatku tadi. Entah mengapa aku lebih memilih berdiam diri di kampus daripada kembali ke asrama. Kampus terasa nyaman dengan koneksi wi-finya. Kebetulan juga saat itu aku sedang berada dalam persiapan ajang perlombaan bahasa, jadi tidak ada alasan untuk tidak berlatih. Dan kampus adalah tempat yang terbaik untuk melakukan persiapan tersebut. Ku habiskan waktuku di tempat ini hingga tak terasa sang surya hampir kembali ke peraduan. Sore pun menjelang.

Zzzzzz…

Handphone yang kuletakkan di saku celana kananku bergetar. Tanpa basa-basi telepon langsung ku angkat. Jauh di seberang telepon, suara itu memecah konsentrasi dan emosiku.

“Kak, doakan agar tidak terjadi apa-apa sama bapak. Sejak sore tadi beliau tidak bisa membuka matanya dan bicaranya semakin sulit,” suara itu terdengar serak mengalun memenuhi telingaku.

Aku tak mampu berucap. Jawabku membisu. Hatiku layu. Orang tua itu sudah dua setengah tahun terbaring tak berdaya di atas sebuah ranjang yang masih kokoh sejak menikah dengan wanita paruh baya yang ku sebut ibu. Kakinya semakin mengecil saat terakhirku melihatnya. Badannya semakin lama semakin kurus. Separuh tubuhnya mati terserang stroke. Bibirnya tak kuasa untuk bercakap dengan lancar. Entah sakit telah membawa pikirannya terbang ke sudut mana, hingga saat ku ajak ia bicara, kadang pembicaraan berakhir di tengah obrolan yang masih terlalu hangat untuk dihentikan. Saat kalimat terakhir yang terdengar melalui telepon, sayup-sayup “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un” tak terasa aku ucapkan. Pikiranku berkecamuk. Antara menyerah dengan berbagai pengobatan yang tak kunjung membawa hasil dan perasaan yang tidak ingin kehilangan sosok kepala rumah tangga yang menjadi pahlawan bagi keluarga. Hatiku menangis perlahan.

Cepat-cepat kulangkahkan kakiku menuju asrama. Hari sudah mulai menjelang gelap. Mega merah meneriaku agar segera bergegas tiba di asrama. Lagi, aku menghubungi keluargaku. Jawaban yang kuterima masih mengawang. Hanya diminta mengirimkan doa untuk ayah. meTangisku pecah tak lama setelah panggilan kedua. Suara tangis dan adzan maghrib beradu dalam kesedihanku. Jauh di dalam hati, aku merasa kehilangan harap. Tangisku membabi buta. Ku buang jauh-jauh gengsi untuk tidak menangis sebagai laki-laki. Tak ada alasan untuk tidak menangis saat ini. Aku berjudi dengan waktu dan keadaan mengenai hidup dan mati ayahku.

Lama sekali aku menangis hingga jam berhenti di angka tujuh. Deni, Amilin dan Topan berhasil meredam kesedihanku untuk sementara. Panggilan ketiga dari rumah memintaku untuk pulang malam itu juga. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Tak lama kemudian, koper beserta pakaian seadanya telah kupersiapkan untuk kepulanganku ke Bali. Sedikitpun tak ada rasa senang atau pun gembira. Sedih, khawatir, dan haru memenuhi kepalaku.

Angkot 36 bergerak menuju terminal pasar minggu. Nisa, sepupuku yang juga berada satu kampus denganku, diminta untuk pulang bersamaku saat itu. Hanya lima belas menit, aku sudah berada di terminal pasar minggu. Bus damri terakhir telah terparkir di pintu keluar terminal. Aku duduk gelisah di deretan bangku tunggu. Air mata yang sejak tadi terus menetes, perlahan mampu ku tahan. Setidaknya agar tidak terlihat aneh di tengah tempat umum seperti ini. Aku masih menunggu kedatangan Nisa untuk bersama-sama menuju ke bandara Soetta dengan menggunakan bus ini.

Handphone kembali bergetar. Panggilan yang sama untuk keempat kalinya.

“Kak, ayah meninggal…” telepon itu kini hanya memperdengarkan suara isak tangis dan diselingi sayup-sayup suara lantunan ayat al-Qur’an yang sangat syahdu.

Tangisku pecah. Tangisanku yang kencang hampir terdengar oleh orang-orang yang sedang minum kopi di warung dekat terminal bus. Aku tak peduli siapa pun. Aku hanya mampu menangis dengan suara tangis yang bercampur emosi. Suaraku terbata-bata bertanya apakah yang dikatakkan oleh adikku itu benar. Bahkan aku tak henti-hentinya mengatakan bahwa aku tidak percaya dengan semua itu. Belum lagi Nisa yang tak kunjung datang.

“Bangunkan Ayah dek. Kakak belum sampai di rumah.”

“Dek, bilang ayah kakak masih di pasar minggu.”

“Dek, tolong bangunkan ayah.”

“Dek, kasi teleponnya ke ayah.”

Dan entah berapa kalimat lagi yang terlontar untuk mewakili semua ketidak percayaanku. Badanku bergetar hebat. Air mata mengucur deras. Hatiku hancur. Sosok ayah yang telah membesarkanku selama 21 tahun itu telah tiada untuk selama-lamanya. Nafasnya tak lagi dapat menghidupi sisa-sisa hidupku. Kelak, tak ada lagi yang mengajariku bagaimana berdiri untuk menghadapi hidup yang sangat keras.

Pesawatku baru meninggalkan Jakarta pada jam tujuh pagi, dan mendarat sejam kemudian di pulau kelahiranku, Bali. Jarak rumahku yang terlampau jauh dari bandara Ngurah Rai, membuatku baru bisa tiba di rumah empat jam kemudian. Tiba di depan rumah kembali memancing air mata yang telah berhenti sejak pagi. Bendera kuning dan bendera hijau yang bertuliskan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” menggetarkan emosiku. Langkahku bergegas menuju ruang tamu. Ratusan pasang mata memandangku iba. Ayahku telah terbungkus rapi dengan baju terakhirnya, kain kafan yang teramat putih, seputih pengabdiannya untuk keluarga, bau kapur barus dan wewangian yang semerbak memenuhi hidungku, seharum jasa dan keringatnya untuk membesarkanku dan mengajarkanku bagaimana cara untuk hidup. Ia telah terbaring kaku dengan badan yang setengah terbungkus. Hanya wajahnya yang menunggu kehadiranku. Di kanan kirinya sudah siap dua orang yang akan menutup wajahnya dengan kapas lalu kemudian membungkus tubuhnya dengan kain kafan. Aku berteriak histeris saat tanganku melingkari tubuh ayahku yang telah kaku. Aku tak peduli walaupun beberapa orang memintaku untuk tidak menangis dan meneteskan air mata. Tubuh kaku itu kini tak mampu lagi berkata layaknya dahulu. Tak mampu lagi mengingatkan untuk sholat atau memintaku mengambilkan makan pagi untuknya. Kaki yang ku pegang itu tak mampu lagi berdiri untuk mengajakku sholat berjamaah, seperti yang kerap beliau ajarkan. Hanya kecupan di pipi kiri dan kanan menjadi salam terakhir terakhirku untuknya. Aku tak kuat berlama-lama melihatnya. Penyesalan yang teramat besar menghalangiku untuk mencurahkan satu atau dua kalam suci di sampingnya. Padahal seminggu sebelumnya aku ada di rumah ini. Aku hanya pulang untuk mengurus perpanjangan SIM yang sudah jatuh tempo. Andai aku tahu bahwa waktuku untuk berbicara banyak dengannya tinggal menghitung waktu, mungkin ku urungkan niat untuk kembali ke Jakarta pada saat itu.

Selamat jalan ayah. Setahun telah ku lalui tanpamu. Ada pecahan kehidupan yang hilang dan mustahil kan terganti. Harapan yang pernah kau lontarkan, doa yang pernah kau lirihkan, dan semangat yang pernah kau ajarkan semoga akan jadi jembatan menuju perjumpaan kita kelak. Semoga kau tenang bersama-Nya di surga. Tuhan, Kekasihmu itu adalah buah atas cinta dan pengorbanan yang telah kau lakukan di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s