Gerak Menurut Pandangan Mulla Sadra

oleh : Ahmad Mutiul Alim

Pembahasan mengenai gerak terlebih dahulu menelurkan dua klasifikasi pembagian wujud dari segi sifatnya. Wujud tetap (tsabit) dan wujud yang berubah (taghayyur). Wujud tetap merupakan wujud yang tidak mengalami gerak dan perubahan. Ia tetap pada kualitas serta kondisinya dalam keberlangsungannya. Wujud tetap ini terdapat pada Wajibul Wujud dan wujud-wujud non-material sempurna. Wujud yang berubah (taghayyur) berasal dari kata ‘ghair’ yang artinya ‘berubah. Secara terminologi taghayyur berarti suatu abstraksi dari dua hal, dua kondisi, atau dua partikular menjadi sesuatu yang lain. Huduts dalam hal ini termasuk dalam kualifikasi wujud yang berubah. Karena dalam kondisi huduts, terdapat pergantian dari ketiadaan menjadi ada. Atau dari wujud menjadi ketiadaan. Artinya, dalam wujud yang berubah terdapat pergantian antara dua titik. Wujud yang berubah tercermin dalam wujud materi, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa wujud non-material juga termasuk di dalamnya.

Keniscayaan gerak adalah sebuah implikasi logis dari wujud yang berubah. Kita dapat memahami perubahan sebagai suatu kondisi, dimana satu entitas muncul, lalu entitas lain datang untuk menggantikannya. Inilah yang dinamakan juga dengan harakah. Sebaliknya, sukun (diam) adalah suatu kondisi dimana benda tidak bergerak, namun masih memiliki potensi untuk bergerak. Untuk mengabstraksi wujud yang berubah secara umum, tidak memerlukan argumentasi, karena wujud yang berubah bersifat badihi. Sedangkan wujud yang tetap (tsabit) membutuhkan argumentasi dalam proses abstraksi. Perubahan –yang merupakan konsekuensi dari wujud yang berubah- terjadi tidak terlepas dari dua keadaan. Apakah ia perubahan yang berlangsung secara spontan, atau perubahan secara perlahan-lahan. Keadaan yang pertama disebut kaun (terjadi) dan fasad (hancur), sedangkan keadaan yang kedua inilah disebut gerak. Dari postulat ini, gerak adalah perubahan yang terjadi secara gradual atau bertahap. Aktualitas yakni aktusnya sesuatu yang sifatnya potensial atau bergeraknya potensialitas menuju aktualitas juga termasuk dalam bagian ini. Para filosof pada umumnya menyebutkan bahwa terdapat kurang lebih 6 syarat sebagai unsur penyusun gerak. Yang meliputi : 1) Awal dan akhir. Yakni titik awal yang menjadi titik keluarnya potensialitas bergerak menuju aktualitas yang menjadi titik akhir. 2) Waktu. Gerak yang sifatnya gradual tentu beriringan dengan waktu. 3) Jarak. Merupakan rentan wilayah perpindahan yang terdapat selama proses gerak. 4) Subjek, yang dimaksudkan sebagai sesuatu ‘yang bergerak’. 5) Penggerak, setiap gerak yang merupakan akibat pasti membutuhkan sisi penggerak sebagai sebabnya.

Dari penjelasan di atas, penjelasan mengenai gerak terbagi lagi menjadi gerak aksiden dan gerak substansi. Gerak aksiden dapat diketahui langsung oleh setiap orang. Gerak ini meliputi gerak posisi (berpindah posisi), gerak kondisi (berpindah dalam lintasan tertentu), gerak kualitas (perubahan yang terjadi dari kualitas tertentu menuju kualitas yang lain, seperti apel hijau muda yang berubah menjadi merah, lalu kemudian hitam membusuk), dan gerak kuantitas (gerak yang melahirkan perkembangan dan pertumbuhan. Misdaq yang paling jelas dapat kiita lihat pada tumbuhan, hewan, dan manusia secara lahiriah). Mulla Sadra mencetuskan pembagian yang kedua, yaitu gerak substansial yang berbeda dari gerak aksiden. Menurut pandangan beliau, gerak substansi inilah yang menjadi inti dari gerak aksiden (yang dalam hal ini hanya merupakan gerak bayangan dari gerak substansi, atau paling tidak hanya sifat-sifat dari suatu zat saja yang bergerak secara bertahap). Argumentasi Mulla Sadra perihal gerak substasi meliputi : 1. Perubahan gerak aksiden adalah akibat alamiah dari perubahan substansinya. Oleh karena itu substansi yang merupakan sebab dari gerak aksiden haruslah ikut bergerak. Contoh, jika anda melihat cahaya lampu bergerak atau berpindah dari tempat mulanya, maka dapat dipastikan bahwa ada lampu yang bergerak seiring dengan gerakan cahaya lampu tersebut. 2. Aksiden tidak pernah terpisah dari substansinya. Jika terdapat perubahan pada aksiden, maka substansinya pun juga ikut berubah. Maka, gerak-gerak aksiden mengindikasikan perubahan pada substansi. 3. Gerak substansi menjadi dalil atas hakikat waktu yang senantiasa bersama beriringan dengan keberadaan material. Rasionalisasi dari pandangan ini adalah bahwa wujud materi memiliki dimensi waktu, dan konsekuensi dari adanya dimensi waktu ini menjadikan wujud materi bersifat gradual dan memiliki gerak. Mulla sadra menganggap jika materi tidak memiliki dimensi waktu, maka bagaimana mungkin ada ukuran-ukuran standar waktu untuk mengukur suatu materi.

Kesimpulannya, menurut Mulla Sadra gerak yang sifatnya gradual, tidak hanya terbatas pada gerak-gerak aksiden semata, namun melampaui hingga ke gerak substansi. Teori inilah yang membedakannya dengan filosof muslim atau barat pada umumnya. Persepsi semacam ini pula yang akan mengantarkan pemahaman bahwa jiwa sebagai unsur non-material pun berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s