Gosip : Indikasi Kebodohan dan Intelektualitas Rendah

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

Tak bisa dipungkiri, belajar hidup adalah bagaimana cara belajar berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk zoon politicon, manusia ‘dipaksa’ untuk mampu mengembangkan kemampuan berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Hal ini tidak terlepas dengan sifat manusia yang serba kekurangan dan membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan dalam menjalani kehidupan. Asumsi semacam ini terus berlangsung hingga berabad-abad lamanya, dan tak ada yang menyangkal bahwa hal ini berlaku baik disadari maupun tidak disadari.

Jika melihat pada satu sisi, mungkin fragmen di atas secara aksiomatis dapat dibenarkan. Betapa tidak, hidup dan mengurusi segala sesuatunya sendiri dalam sebuah ruang lingkup yang sangat besar tentu dapat menimbulkan kendala dan problematika tertentu bagi setiap orang. Seorang bos membutuhkan karyawan agar sebuah perusahaan dapat berjalan dengan baik. Seorang petani membutuhkan tengkulak atau pedagang untuk menghasilkan uang dari hasil kebun atau ladangnya. Begitu pula manusia pada umumnya yang membutuhkan berbagai aspek kehidupan sosial untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Oleh karena itu, komunikasi dan interaksi yang menjadi penyambung lidah antar individu merupakan sebuah poin yang sangat penting dalam mempertahankan kehidupan.

Dalam sebuah penelitian pada abad ke-13, penguasa sisilia melakukan percobaan terhadap sejumlah bayi*. Bayi-bayi tersebut dipelihara dan diberikan asupan ASI oleh ibu-ibu mereka namun tidak diajak berbicara. Alhasil, semua bayi dalam percobaan tersebut meninggal dunia. Minimnya komunikasi dan interaksi merupakan sebuah kegagalan manusia dalam menjaga keseimbangan hidupnya. Menurut kacamata agama, setiap orang diharapkan menyeimbangkan hubungan komunikasi antara dirinya dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan komunikasi antara dirinya dengan sesama manusia (hablum minanaas). Ketimpangan salah satunya dapat menyebabkan problema tertentu dalam kehidupan.

Namun, jika kita melihat dari sisi yang berbeda, komunikasi serta interaksi yang kerap terjadi kadang secara tidak langsung menyisakan masalah yang berbeda. Pada dasarnya komunikasi terjalin di atas sebuah kepentingan. Kepentingan dalam terma yang positif merupakan bagaimana manusia dapat menjalin sebuah ikatan atau hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Akan tetapi, masalah yang berbeda akan muncul jika melihat kepentingan dalam terma yang negatif. Dan inilah yang justru menjadi sebuah sisi tajam sebuah komunikasi dan interaksi.

Gosip, siapa yang tidak tahu dengan kata ini? Meskipun diterjemahkan dalam bahasa yang berbeda, namun terma ini selalu saja diistilahkan dengan perilaku orang-orang yang membicarakan segala tindak-tanduk orang lain yang berkonsekuensi buruk bagi objek yang menjadi bahan pembicaraannya. Gosip merupakan salah satu konsekuensi buruk dari adanya komunikasi, kala komunikasi positif tidak mampu dipertahankan di tengah-tengah komunitas tertentu. Perilaku buruk ini lahir atas dasar rasa dengki, iri atau bahkan ketidaktahuan akan fakta dan realita sebenarnya. Kebanyakan gejala akan perilaku ini muncul atas dasar dorongan ingin eksis, selalu dianggap up to date oleh teman atau orang-orang di sekitarnya, atau malah kepentingan-kepentingan negatif yang mendominasi pikiran seseorang.

Gosip bukan merupakan tradisi yang baik untuk dipupuk. Perlu dibedakan antara yang mana gosip dan yang mana opini. Gosip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pergunjingan, atau cerita negatif tentang seseorang. Sedangkan opini berarti pendapat, atau pikiran yang berbasiskan fakta-fakta dan data-data tertentu. Gosip tidak akan terjadi antara pelaku gosip vis-a-vis objek pembicaraan. Biasanya gosip dilakukan ketika objek pembicaraan alfa dari sebuah forum. Dampak yang dihasilkan pun biasanya akan bertahap. Mulai dari gunjingan satu dua orang, hingga menjadi sebuah berita yang nikmat untuk dibahas dalam komunitas yang lebih besar. Akumulasi pembicaraan dalam tema yang sama berbanding lurus dengan cepatnya penyebaran suatu gosip tertentu.

Pada umumnya, tidak ada manfaat yang dapat diraih oleh objek pembicaraan. Gunjingan negatif terhadap diri mereka perlahan-lahan akan menjatuhkan identitas serta kehormatan mereka di hadapan publik, atau yang paling parah harga dirilah yang akan terinjak-injak. Sadar atau tidak banyak hal negatif yang pada akhirnya diterima oleh objek pembicaraan, seperti pengucilan, mindset publik, serta pertimbangan umum yang bisa jadi merugikan si korban dalam menjalani kehidupannya. Hal bodoh semacam ini kerap kali terjadi baik di tengah-tengah komunitas akademisi hingga rakyat jelata. Terkadang pemikiran yang dangkal dan sifat egois menjadi salah satu pemantik munculnya fenomena ini kemudian.

Kebodohan dan kekejian yang melatari fenomena gosip merupakan konsekuensi logis akan ketidakmampuan seseorang untuk menciptakan sebuah komunikasi dan interaksi yang positif antar sesamanya. Ketika seseorang sudah tidak menjumpai kepentingan positif yang dapat menguntungkan kedua belah pihak, maka muncullah kepentingan negatif yang kemudian melahirkan komunikasi negatif dalam bentuk gosip. Kepentingan negatif ini hanya akan menguntungan satu pihak dan merugikan pihak lainnya (simbiosis parasitisme). Sifat parasit ini akan terus menempel selama si pembicara (red:tukang gosip) tidak menyadari bahaya laten yang ditimbulkan atas perbuatannya. Dalam hal ini, kecerdasan dan tingkat intelektual seseorang biasanya dapat diukur. Seseorang dengan tingkat kecerdasan dan intelektual yang tinggi tentu tidak akan menghabiskan waktunya untuk membicarakan sesuatu atau objek yang tidak akan memberikan manfaat bagi dirinya, atau jika pun bermanfaat tapi merugikan orang lain, hal itu akan dihindari. Konsekuensi ini merupakan kesadaran akan bahaya dan resiko yang akan terjadi ketika ia melakukan hal tersebut. Sedangkan seseorang dengan tingkat kecerdasan dan intelektual yang rendah tidak akan memikirkan hal semacam ini. Apa yang ia ketahui hanyalah sebatas hafalan dan tidak memberikan dampak pemikiran yang bermanfaat untuk kehidupannya. Oleh karena itu, tidak akan ada sebuah penyesalan atau rasa bersalah kala ia membicarakan sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Karena hafalan, maka tidak salah itu termasuk salah satu bentu kebodohan. Bukankah burung beo pun dapat menghafal kata-kata atau kalimat yang dipelajarinya dan alfa ketika diminta untuk menyebutkan kata-kata di luar itu atau mungkin analisis atas apa yang ia ucapkan?

Jika anda masih suka bergosip, kemungkinan besar anda masih termasuk orang yang kurang cerdas (red:bodoh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s