Kebadihian Konsep Wujud Menurut Mulla Sadra

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

Konsep badihi adalah konsep dimana suatu term tidak membutuhkan definisi, karena ia sudah jelas dengan sendirinya. Mendefinisikannya hanya akan membuatnya semakin tidak jelas. Perlu diketahui, bahwa untuk mendefinisikan sesuatu minimal membutuhkan jenus dan fashl. Jika satu saja diantara keduanya kurang, maka pendefinisian tidak dapat dilakukan. Fashl menjadi sesuatu yang paling urgen dalam mendefinisikan objek. Karena Fashl yang membedakan antara satu objek dengan objek lainnya. Dari pernyataan inilah kemudian dapat kita katakan bahwa wujud adalah konsep yang badihi. Sebab, banyak ditemukan percobaan-percobaan yang mencoba untuk mendefinisikan wujud, namun tetap saja, wujud tidak akan pernah mampu didefinisikan, karena ia badihi atau jelas dengan dirinya sendiri. Ketika pun kita berusaha untuk mendefinisikan wujud, maka kendala yang akan kita temui adalah berkenaan dengan fashl. Fashl seperti yang disebutkan di atas merupakan pembeda suatu objek dengan objek lainnya. Lalu apakah yang membedakan wujud dengan objek lain? Apakah ada sesuatu selain wujud? Jika pun kita memaksa untuk menerapkan genus ‘sesuatu’ pada wujud, lalu apa yang akan menjadi fashl-nya? Inilah alasan bahwa wujud merupakan konsep yang badihi. Mendefinisikannya adalah sebuah sesuatu yang tidak mungkin (muhal), karena tidak ada sesuatu di luar wujud.

Pembahasan diluar itu namun masih berkaitan adalah kesatuan wujud. Sering kali kita mendapatkan kata ‘ada’ atau wujud diterapkan pada berbagai proposisi. Misalnya, ‘Tuhan itu ada’, atau ‘Pohon itu ada’. Kedua proposisi ini memiliki makna yang sama, atau dalam artian keberadaan Tuhan dan keberadaan pohon merupakan dua hal yang sama? Permasalahan ini dijawab dalam logika, bahwa ada yang disebut musytarak lafdzi yaitu satu kata yang memiliki banyak makna (seperti kata sholat yang bisa berarti ritual tertentu, atau doa), dan musytarak maknawi yaitu satu kata yang memiliki satu makna, namun memungkin untuk memiliki banyak misdaq (contohnya kata manusia, kayu, dan lain-lain). Kemudian, apakah predikasi ‘ada’ yang dialamatkan kepada Tuhan dan pohon merupakan musytarak lafdzi atau musytarak maknawi? Jika kata ada tersebut merupakan musytarak lafdzi, maka ada yang berarti untuk menegaskan keberadaan hanyalah milik Tuhan atau pohon, dan tidak bisa berlaku untuk keduanya. Karena jika ‘ada’-nya Tuhan sama dengan ‘ada’-nya pohon, maka ada dualitas, hal ini dinafikan oleh banyak kalangan. Oleh karena itu, yang paling tepat adalah ‘ada’ merupakan musytarak maknawi.

Seperti yang dikatakan bahwa musytarak maknawi adalah kata yang memiliki satu makna namun memungkinkan untuk memiliki misdaq yang berbeda-beda. ‘Ada’ yang dipredikasikan kepada Tuhan tentu memiliki perbedaan dari sisi misdaq dengan ‘ada’ yang dipredikasikan kepada pohon. Dari sisi ini bisa kita katakan bahwa ‘ada’ Tuhan dan ‘ada’ pohon berbeda dalam kualitasnya. Sebagaimana jika kita kayu, maka ada kayu dengan kualitas yang kuat dan tahan banting, ada pula kayu dengan kualitas rendah dan gampang rapuh. Atau ketika kita mengatakan cahaya, maka cahaya seperti apa yang kita maksud. Apakah cahaya dengan intensitas terang yang sangat silau atau cahaya dengan intensitas terang yang redup? Atau dalam kasus lain, ketika kita mengatakan hitam, maka hitam yang kita katakan apakah hitam pekat atau hitam tidak pekat atau lain sebagainya? Begitu pula dengan predikasi ‘ada’alam hal ini. Tuhan adalah wajibul wujud. Ia adalah sumber dari segala sesuatu, keberadaannya akan selalu ada, dan tidak mungkin akan menjadi tiada. Sedangkan pohon, manusia, dan lain sebagainya, meskipun bisa dipredikasikan ‘ada’, tetap saja ‘ada’ yang dimaksud tidak seabsolut ‘ada’ yang dialamatkan kepada Tuhan. ‘Ada’ yang dimiliki oleh manusia atau pohon memiliki kualitas dibawah kualitas ‘ada’ yang dimiliki oleh Tuhan. ‘Ada’ yang dimiliki oleh manusia atau pohon memungkinkan untuk berubah menjadi tiada. Sebagaimana ketika kita menyebut matahari bercahaya (karena ia sumber cahaya) dan bulan juga bercahaya (karena terkena pantulan matahari). Maka ketika terjadi gerhana bulan, bulan tidak disebut bercahaya lagi, karena bumi menutupi cahaya matahari jatuh di bulan. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s