Keniscayaan Tasawwur Pada Tashdiq

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

Konsep tasawwur dan tashdiq adalah dua terma yang sering dibahas dalam filsafat, terutama perdebatan mengenai apakah tasdiq mungkin tanpa tasawwur, atau apakah hanya tashdiq yang ada, sedangkan sebaliknya tasawwur hanyalah khayalan semata? Jika kembali kepada terminologi kedua konsep tersebut, tasawwur adalah gambaran sederhana atau konsep sederhana mengenai realitas objektif. Tasawwur sering dipraktekan kala seseorang melihat sesuatu. Ketika dihadapannya terdapat buah apel, maka secara otomatis dalam benaknya akan muncul konsep apel. Itulah yang dinamakan dengan tasawwur. Sedangkan tashdiq adalah affirmasi atau penilaian salah-benar yang diberikan kepada tasawwur-tasawwur. Berdasarkan terminologi kedua konsep ini, maka secara pasti dapat dikatakan bahwa tasawwur adalah sebuah keniscayaan untuk melakukan tashdiq. Mengapa?

Tasawwur akan melazimkan munculnya konsep segala sesuatu di dalam pikiran. Tasawwur inilah yang sering dilakukan manusia untuk mengabstraksi objek yang berada di depannya. Manusia mengenal apel, sepeda, kuda, buku, dan lain sebagainya melalui proses tasawwur. Tanpa tasawwur, manusia tidak akan mengetahui sesuatu yang berada di luar dirinya. Sedangkan tasdiq adalah proses penilaian apakah realitas yang ada di luar bernilai salah atau benar. Tasdiq hanya muncul ketika seseorang sudah memiliki konsep tertentu yang didapatkan melalui proses tasawwur di dalam benaknya. Proses tasdiq adalah proses perbandingan apakah proposisi mengenai objek A di luar koheren dengan konsep A yang ada di dalam akal. Jika proposisi mengenai objek A yang ada di luar koheren dengan konsep yang ada di dalam akal, maka proposisi tersebut bernilai benar. Dan sebaliknya, jika tidak ada koherensi antara proposisi mengenai objek yang ada di luar tersebut dengan konsep yang ada di akal, maka proposisi tersebut bernilai salah. Contoh: Ahmad berbicara kepada Hasan. Kemudian ia menunjuk apel sambil mengatakan, “Itu adalah apel.” Ketika Hasan melihat ada koherensi antara apel yang ada di luar dengan konsep apel yang ada di benaknya, Hasan akan berkata, “Benar, itu adalah apel.” Namun ketika Hasan melihat tidak ada koherensi antara objek yang ada di luar dengan konsep apel yang ada di dalam, mungkin Hasan akan mengatakan, “Bukan, itu adalah manggis.”

Berdasarkan hal tersebut, maka tasdiq tidak mungkin ada tanpa didahului oleh tasawwur. Meskipun ada beberapa orang yang berpikir bahwa tasdiq secara otomatis ada tanpa harus melalui proses tasawwur. Namun hal ini dapat dibantah bahwa ketika pertama kali melihat objek, maka seseorang hanya akan mampu mentasawwur objek tersebut, tanpa mampu mentasdiqnya. Ketika ia sudah memiliki konsep tentang objek tersebut, maka selanjutnya tasdiq dapat diterapkan kepada objek. Contoh, katakanlah Ahmad melihat sesuatu berwarna hijau, bertubuh kecil kurus, terbang, dan bisa melompat-lompat. Karena ia adalah yang pertama kali menemukan objek itu pertama kali, ia namakan objek itu dengan nama belalang. Ia tidak dapat memberikan penilaian salah atau benar ketika pertama kali melihat belalang, karena sebelumnya ia tidak memiliki konsep tentang belalang. Ketika suatu hari ada yang memberikan proposisi ‘itu adalah belalang’ kepada objek yang dikonsepnya sebagai belalang, maka Ahmad dapat mentasdiqnya dengan mengatakan ‘Benar, itu adalah belalang’.

Demikianlah konsep mengenai tasawwur dan tasdiq. Kedua hal ini merupakan konsep yang sering kali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, merupakan hal yang keliru jika mengatakan tasawwur hanya merupakan khayalan semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s