Pengetahuan Hudhuri Dan Husuli Serta Kaitannya Dengan Konsep Tasdiq

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

Pengetahuan menurut Mohsen Gharawiyan merupakan sesuatu yang badihi. Ia bukan saja tidak butuh kepada definisi, bahkan tidak mungkin untuk mendefinisikan pengetahuan tersebut. Karena tidak ada konsepsi yang lebih jelas daripada pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan dilihat dari aspek bagaimana proses mendapatkannya, terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan husuli dan pengetahuan huduri. Pengetahuan husuli adalah pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi mental melalui proses inderawi dan perantara bentuk yang ada di realitas eksternal. Sedangkan pengetahuan huduri adalah pengetahuan yang hadir secara langsung dalam diri manusia tanpa perantara. Pengetahuan husuli dapat dilihat ketika seseorang mengetahui suatu objek yang ada di luar dirinya. Pengetahuan mengenai motor yang rusak, pohon yang roboh, menaksir tinggi sebuah pohon, dan lain sebagainya merupakan pengetahuan husuli, dimana antara subjek yang mengetahui dan objek terpisah satu sama lain, atau pengetahuan tersebut hadir melalui perantara-perantara inderawi. Dalam pengetahuan huduri, menurut Mulla Sadra, minimal harus memenuhi 3 syarat utama. Yaitu, yang mengetahui, yang diketahui, dan predikasi. Misalnya, ‘saya melihat pohon’. Saya sebagai ‘yang mengetahui’, pohon sebagai ‘yang diketahui’, kemudian ‘melihat’ sebagai predikasi. Untuk memastikan proposisi tersebut benar, maka antara subjek ‘yang mengetahui’ dan ‘yang diketahui’ harus memiliki hubungan yang koheren.

Pengetahuan Huduri tercermin ketika seseorang mendapati ia sedang lapar, atau merasa sedih, cemas, kecewa, senang, bahagia, dan lain lain. Kesadaran tentang diri juga merupakan sebuah pengetahuan huduri. Pengetahuan huduri tidak memerlukan abstraksi atau konsepsi untuk mengetahuinya, ia langsung dapat dirasakan tanpa perantara, seperti halnya ilmu husuli. Contohnya, ketika seseorang merasakan senang, ia tidak mendapatkan senang dalam realitas eksternal, melainkan rasa senang itu hadir secara langsung dalam diri manusia tanpa melalui proses inderawi. Mulla Sadra menyebutkan bahwa pengetahuan Huduri pasti benar. Namun, pernyataan ini mendapatkan kritikan bahwa jika sebelumnya menurut Mulla Sadra mengatakan bahwa syarat pengetahuan dikatakan benar adalah adanya subjek ‘yang mengetahui’, ‘yang diketahui’ dan predikasi, maka sepertinya pendapat bahwa pengetahuan huduri pasti benar perlu dipertimbangkan. Dalam pengetahuan huduri, subjek yang mengetahui dan yang diketahui adalah satu, yaitu diri manusia itu sendiri. Lalu bagaimana bisa terjadi proses tasdiq dengan hanya satu subjek? Oleh karena itu, dari sisi ini dikatakan bahwa pernyataan Mulla Sadra yang mengatakan bahwa pengetahuan huduri pasti benar adalah keliru. Namun Mulla Sadra membantah, bahwa yang dimaksud dengan pasti benar adalah pengetahuan tersebut benar-benar dirasakan secara langsung oleh objek, tanpa proses abstraksi terlebih dahulu seperti pengetahuan husuli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s