Nyanyian Seorang Perindu

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

 

Ini kisah seorang perindu

Yang malu untuk merindu

Merasa tak pantas tuk merindu

Setelah membunuh sang kekasih dengan lagu sendu

Rasanya pilu

 

Bibirnya enggan berbicara

Matanya pantang melayu

Kakinya enggan melambat

Namun, kerinduan yang mengintip dari sela-sela hatinya

Menggerogoti alam imaji dan seluruh sudut benaknya yang mulai basi

 

Ia masih sombong untuk berharap

Dengan angkuh ia palingkan wajahnya

Sedang di belakang tangannya mengulur meminta

Sadar kini sang terkasih tak lagi disini

Yang mungkin telah berjalan dan tak kan melihatnya lagi

 

Sesaknya menjadi seorang perindu

Logika yang dipuja tak mampu berkata

Hati yang dulu dibungkam kini mulai banyak bicara

Hingga sibuk menyanyikan lagu tidur

Menina-bobokan suara hati yang kian mengganggu

 

Seorang perindu kini tengah meracun

Hatinya melumpuhkan kakinya tuk tetap berdiri

Seperti yang pernah ia pesankan dahulu

Kemandirian yang kini ternyata telah busuk dan berubah menjadi lagu sendu

Perlahan merasa rapuh dan berharap akar rasio masih mampu dipegangnya

 

Kadang ia meracau dalam mimpi isme

Mencaci egoisme

Yang kerap datang dengan baju idealisme

Mengulat benang kepercayaan

Pada diri yang kini hampir tak ia kenali

 

Sang perindu tengah merindu

Merindu setiap lipatan romantika yang dahulu terselip

Membentang senyum dan tawa yang tak pernah henti

 

Sang perindu ini tengah merindu

Sapa dan peluk manja sang kekasih

Yang sempat ingin ia temukan di sudut lain ibu kota

Alfa

 

Betapa pun kian tinggi

Setumpuk rindu yang memenuhi ruang hati sang perindu

Namun masih layakkah?

Pantaskah?

Tak malukah?

Sanggupkah nyanyian rindunya membebat luka

Atau memberi anestesi pada hati yang sempat ia hujam

Dengan ribuan panah yang melesak dari kedua bibirnya yang kini mengatup?

Ia malu

Persetan dengan logika

Karena kini ia memilih diam saja di depan pintu

Hingga dibukakan pintu oleh sang empunya

Mengetuk pintu kecil itu pun baginya tak pantas

Setelah ribuan gerbang ia hancurkan sesaat

Sekali lagi, ia malu

Malu dalam harap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s