Urgensi Kemaksuman Dalam Fenomena Islam Modern

Oleh : Ahmad Mutiul Alim

Kemaksuman atau ‘‘Ishmah jika ditinjau secara etimologi merupakan mashdar dari kata عصم – يعصم yang berarti ‘melarang’ (contoh : عصمة اللهً عبده)[1], kata ‘‘Ishmah juga berarti sesuatu yang dipakai manusia untuk menjaga diri dari terjerumus pada hal-hal yang tidak ia sukai. Ibnu Faris dalam kitab Maqayis-nya menyebutkan: Kata ‘ashama menunjukkan arti Imsa>k (menahan diri), man’u (mencegah) dan mula>zamah (bergantung tak lepas). Dan pada hakikatnya semua arti di atas kembali pada satu makna. Kata al-’Ishmah artinya adalah ketika Allah memelihara hamba-Nya dari terjerumus kepada kejelekan. Kata al-‘‘Ishmah beserta variabelnya telah dipakai dalam al-Qur’an sebanyak dua puluh tiga kali, dan keseluruhannya bermuara pada satu makna, yaitu menahan dan mencegah[2].

وَ اعْتَصِمُواْ بحبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَ لَا تَفَرَّقُواْ

Berpegang teguhlah kamu pada tali Allah dan jangan bercerai-berai[3]..

Orang-orang Arab menamakan tali pengikat barang di punggung-punggung kendaraan mereka dengan sebutan al-‘isham, ia berfungsi sebagai pencegah jatuhnya dan tercecernya barang-barang tersebut. Syekh al-Mufid berkata, al-’Ishmah dar Allah bagi hujjah-hujjah-Nya adalah taufiq dan belas kasih (luthfun) dan pemanfaatan ‘Ishmah (penjagaan) tersebut oleh mereka (hujjah) demi menghindar dari dosa dan kesalahan tentang agama Allah. Al-’Ishmah adalah anugerah yang dianugerahkan Allah bagi hamba yang ia ketahui akan berpegang dan memanfaatkannya[4].

‘Ishmah sama sekali tidak mencegah atau menghalangi dari kemampuan melakukan kejelekan dan tidak memaksa peyandangnya melakukan kebaikan. Sayyid Murtadha berkata : ‘Ishmah ialah kelemah-lembutan yang dilakukan oleh Allah atas hamba-Nya sehingga ia memilih mencegah diri dari melakukan hal yang jelek. Definisi serupa juga diutarakan para ulama dari berbagai aliran teologi Islam. Dan semuanya menekankan bahwa kemaksuman yang disandang seseorang tidaklah meniadakan kemampuan dan ikhtiarnya, ia tetap melakukan kebaikan dan mencegah diri dari dosa dan kejelekan atas dasar ikhtiarnya[5].

Perkara yang meyebabkan terealisasinya kemaksuman adalah ilmu dan pengetahuan (hikmah) yang dimiliki oleh seorang individu, yang mana ilmu tersebutlah yang mencegahnya untuk melakukan kemaksiatan. Allamah Thabathaba’i menyebutkan bahwa ‘Ishmah (penjagaan atau pemeliharaan) dari Allah merupakan penyebab atas munculnya ikhtiyar yang selalu benar dan bermuara pada ketaatan pada diri Nabi yang tercermin pada tindakannya. “Sesungguhnya kekuatan ‘Ishmah tidak menyebabkan gugurnya ikhtiyar dan gugurnya kewajiban-kewajiban atau taklif yang didasarkan atasnya. Ia merupakan sebuah bentuk bakat-bakat keilmuan, sedang ilmu dan raihan informasi tidak akan mengeluarkan potensi pelaku dan penggerak pada anggota badan, dan anggota badan yang memuat potensi-potensi tersebut dari kenetralan dalam berbuat atau meninggalkan perbuatan.

Bagaimana ilmu menjadi latar belakang kemaksuman seseorang? Pertama, manusia dalam melakukan segala sesuatu selalu berpedoman pada tujuan tertentu. Tujuan tersebut berangkat dari pengetahuannya yang secara individu akan memberikan manfaat bagi dirinya. Sebaliknya, jika pengetahuannya mengatakan bahwa sebuah tindakan tidak akan mendatangkan manfaat bagi dirinya, maka hal tersebut tidak akan dituju. Seseorang yang memiliki pengetahuan ketuhanan akan menempatkan Tuhan dan berbagai hal yang bersifat ukhrawi sebagai tujuan hidupnya. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang menyandang predikat ma’shum selalu melakukan kebaikan, karena mereka akan melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang-orang yang berada di sekitarnya.

Kedua, manusia akan selalu menghindari atau menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menjadi penghalang bagi dirinya untuk sampai pada tujuannya. Kesadaran ini menggiring seorang ma’shum untuk mencegah dirinya dalam melakukan hal-hal yang bersifat ma’siat, dosa, atau mengundang murka Allah. Ketiga, kemaksuman (seperti yang dijelaskan) tidak semata-mata menghilangkan kebebasan dan ikhtiyar manusia atau kehendak (iradat). Pengetahuan yang tinggi tetap menjadikan seorang yang ma’shum memiliki kehendak (iradat), dan justru akan menghasilkan sebuah pertimbangan yang sangat kuat.

Keempat, pengetahuan berbeda akan mengantarkan pada perbuatan yang berbeda pula. Pengetahuan tentang Allah merupakan pengetahuan tertinggi. Seseorang yang memiliki pengetahuan tertinggi ini tentu akan merealisasikan tindakan-tindakan yang sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Berbeda halnya dengan ilmu-ilmu yang bersifat duniawi. Syekh ja’far subhani mengatakan bahwa ilmu yang pasti akan akibat-akibat ukhrawi dosa, maksiat, dan perbuatan-perbuatan hina, sehingga tidak tercampur oleh keraguan dan tersingkaplah tirai-tirai penghalang, sehingga penyandangnya melihat dengan gamblang dan merasakan dengan nyata akibat dari konsekuensi pedih kemaksiatan di alam akhirat.

Selain tingkat pengetahuan serta anugerah ilmu yang hakiki yang dimiliki oleh para ma’shumin –yang berkonsekuensi pada perbuatan dan ikhtiar mereka-, kesadaran akan ke-Mahabesaran , ke-Mahaindahan, dan ke-Mahasempurnaan Alla>h swt, secara otomatis akan menjaga pribadi-pribadi tersebut untuk melakukan segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan hukum Allah swt. Sebagaimana pernyataan imam Ali dalam sebuah riwayat:

“: Aku tidak menyembah-Mu karena takut akan nerakaMu dan tidak pula mengharap surgaMu. Akan tetapi aku temukan engkau sebagai Dzat yang patut disembah, maka aku menyembahMu.

Al-Yaqin atau ilmu yang tidak bercampur dengan keraguan juga turut andil dalam membentuk kepribadian yang terbebas dari kemungkinan untuk melakukan dosa. Karena bagaimana pun seseorang bertindak sesuai dengan apa yang ia yakini.

Jalan untuk memahami program kehidupan secara menyeluruh yang disebut agama, tidaklah melalui penalaran, melainkan melalui wahyu dan kenabian, yang menampakkan dirinya kepada makhluk-makhluk suci tertentu di antara umat manusia yang disebut Nabi-Nabi. Jelas terlihat, sebagaimana penalaran ini membuktikan perlu adanya pengetahuan yang membimbing manusia mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan, ia juga membuktikan perlu adanya pribadi-pribadi yang menjaga seluruh pengetahuan itu secara utuh dan yang mengajarkannya kepada manusia saat diperlukan. Tuhan pun memplot pribadi-pribadi ini menjaga kewajiban dan tingkah laku untuk tetap terjaga selamanya di dunia. Dengan kata lain, harus selalu pribadi-pribadi yang menjaga agama Tuhan dan menjelaskannya jika diperlukan. Oleh karena itu pribadi (baik Nabi maupun imam) ini harus tetap terjaga baik secara lahir maupun bathin[6].

Sangat jelas bahwa perbuatan dosa bisa muncul dari tidak sempurnanya pengetahuan tentang keburukan dosa, tidak adanya kesadaran akan konsekuensi-konsekuensi buruk, lemahnya akal, lemahnya kehendak ketika berhadapan dengan dorongan keinginan hawa nafsu. Tak satu pun dari faktor ini yang bisa menyentuh orang yang memiliki pengetahuan yang melimpah, yang memahami bentuk rinci semua penyebab dosa, dan yang menundukkan ego kepada tuntutan-tuntutan ketakwaan. Disamping itu, kebebasan dari dosa dan kesalahan dijamin oleh perlindungan Tuhan karena mereka harus menyampaikan pesan yang benar dari-Nya. Dengan cara yang itulah Tuhan menjamin penerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw guna menghapuskan semua kesalahan. Kemaksuman ini sangat penting karena pesan-pesan perintah Tuhan harus disampaikan kepada manusia tanpa ada kesalahan atau kekeliruan meskipun kecil, baik disengaja atau tidak[7].

Terma maksum sering diidentifikasikan dalam salah satu pembahasan teologi mazhab Syi’ah. Syi’ah meyakini kemaksuman merupakan hal terpenting dalam keberlangsungan ajaran agama Allah di muka bumi. Dan berdasarkan alasan tersebut Syi’ah percaya bahwa semua Nabi ma’sum, yakni terpelihara dari perbuatan salah, keliru, dan dosa sepanjang hidup mereka, baik sebelum kenabian maupun sesudahnya. Sebab jika seorang Nabi melakukan kesalahan atau dosa, maka kepercayaan yang diperlukannya untuk posisi kenabian dengan sendirinya sirna dan orang tidak mempercayainya lagi sebagai penghubung mereka dengan Tuhan. Orang-orang yang tidak akan lagi menganggapnya sebagai panutan bagi mereka[8].

Di pihak lain, madzhab Sunni atau yang lebih dikenal ahlus Sunnah tidak berbicara dalam satu suara tentang subjek ini. Sebagian Sunni mengklaim bahwa Nabi saw itu maksum atau tidak berdosa hanya dalam penyampaian risalah Allah. Selain itu, Nabi saw sebagaimana orang lain berdosa dan melakukan kesalahan-kesalahan dalam banyak hal. Contoh: Nabi tertidur pada waktu sholat, menonton tarian, terkena sihir, dll[9].

Syi’ah tidak hanya menyuarakan bahwa Nabi sebagai satu-satunya orang yang ma’shum atau terjaga dari perbuatan dosa dan kesalahn –untuk menjamin otentisitas pesan Tuhan yang disampaikan kepadanya-, namun terma ini tetap dibawa sepeninggal Nabi Muhammad saw, yaitu kema’shuman yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, yang disebut imam. Meski disini tidak akan dijelaskan secara panjang lebar mengenai imamah, namun penting kiranya untuk mengetahui sedikit penjabaran mengenai kema’shuman para imam.

Manusia, melalui fitrah anugerah Tuhan, tanpa ragu menyadari bahwa tak ada masyarakat yang terorganisasikan, seperti suatu negara atau kota atau desa atau suku, atau bahkan sebuah rumah tangga yang hanya terdiri dari beberapa orang, dapat hidup terus tanpa suatu pemimpin atau pengatur yang menggerakkan roda masyarakat dan yang mengatur kemauan masing-masing individu dan mempengaruhi anggota-anggota masyarakat itu untuk melaksanakan tugas-tugas sosial mereka. Tanpa pengatur seperti itu, dalam waktu singkat, bagian-bagian masyarakat menjadi berserakan dan dan dilanda kekacauan dan kebingungan[10]. Bahkan hanya sebatas urusan duniawi pun manusia tidak mampu hidup tanpa pemimpin, terlebih urusan ukhrawi (agama). Manusia sangat membutuhkan sosok pemimpin yang dapat menjadi panutan dan penjaga dalam setiap perjalanan agama yang kian menghadapi permasalahan yang semakin rumit. Tidak dapat dibayangkan jika Allah tidak menempatkan para pemimpin-pemimpin agama yang dapat dipercaya menjawab segala problem keagamaan.

Berdasarkan argumentasi di atas, Syi’ah percaya bahwa adanya seorang imam pada setiap zaman yang menjadi pemelihara dan pelindung hukum Islam. Hanya melaluinyalah umat dapat mengenal Islam. Kaum syi’ah memberikan tekanan yang besar pada aspek religius Imamah. Kema’shuman dianggap sebagai urgensi terjaganya ajaran agama dari waktu ke waktu. Pada masa ini, Imamah sering dianggap sebagai administrasi pemerintahan (jika kita berkaca pada Iran), tetapi ini merupakan pikiran yang keliru. Imamah merupakan suatu persoalan relijius dan administrasi pemerintahan hanyalah sebagai suatu fungsi. Dari sudut pandang ini, Imamah dan administrasi pemerintahan merupakan dua istilah yang dalam hal tertentu saling melengkapi satu sama lain. Sebagaimana Nabi yang menjadi pemimpin religius sekaligus pemimpin pemerintahan[11].

Sunni tidak sepenuhnya bungkam terhadap masalah kema’shuman –selain anggapan bahwa Nabi hanya ma’shum pada saat menyampaikan wahyu-, Fakhrul Razi menempatkan subjek pembahasan mengenai ma’shum ketika ia menafsirkan surat at-Taubah ayat 119 yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan bergabunglah dengan orang-orang yang benar (shodiqin). Menurutnya, ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang yang jaiz-al khata, dapat melakukan kesalahan, harus bergabung dan mengikuti orang-orang yang telah dijamin kebenaranya atau al-Ma’shum. Mereka adalah orang yang dimaksud oleh Allah sebagai yang benar. Dengan demikian wajib bagi setiap jaiz-al Khata untuk menyelamatkan dirinya dari kesalahan. Prinsip ini bukan hanya berlaku pada satu masa saja, tapi untuk sepanjang masa. Dengan demikian, setiap masa pasti ada al-Ma’shumin[12].

Baik Sunni maupun Syi’ah, kami rasa dalam konsepnya mengenai kema’shuman tidak lepas dari celah-celah pertanyaan. Sunni dikritik atas pemahamannya sangat tidak logis bahwa Nabi mungkin melepaskan kema’shumannya kala tidak menerima wahyu, dan hanya ma’shum ketika menerima wahyu. Lalu bagaimana Nabi mampu menarik begitu banyak pengikut dalam kurun waktu 23 tahun, jika semisal ternyata prilaku Nabi di luar masa-masa kewahyuan tidak dapat dipertanggung jawabkan? Syi’ah pun dalam hal ini perlu dipertanyakan mengenai siapa yang mampu mengetahui keimamahan yang berkonsekuensi terhadap kemaksuman.

Sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa Syi’ah meyakini setiap zaman memiliki imam, lalu siapakah yang mampu mengetahui keimamahan? Tidak disebutkan secara jelas apakah perkara imamah merupakan perkara ijtihadi atau penetapan yang mutlak dari Allah swt. Pertanyaan ini berangkat dari terpecahnya Syi’ah menjadi beberapa sekte yang ternyata persoalan utamanya adalah penetapan siapa imam berikutnya setelah imam sebelumnya meninggal dunia. Zaidiyah meyakini bahwa yang menjadi imam adalah Zaid bin Ali sebagai imam pasca meninggalnya Imam Ali Zainal Abidin, Ismailiyyah yang percaya bahwa Ismail bin Ja’far ash-Shadiq sebagai imam penerus setelah wafatnya Imam Ja’far ash-Shadiq, dan lain sebagainya. Pertanyaan selanjutnya, siapa pemegang otoritas penunjukan imam, sehingga kema’shuman yang terdapat pada dirinya merupakan sesuatu yang benar adanya?

Terlepas dari beragam pendapat mengenai kema’shuman, terdapat persoalan yang lebih inti yang sangat menarik untuk dibahas mengenai kema’shuman. Meski tidak ingin berpanjang lebar dalam hal ini, namun perlu kiranya dipaparkan sedikit dari apa yang telah kami cantumkan dalam judul di atas bahwa terdapat kaitan antara kema’shuman dengan kondisi umat Islam pada saat ini.

Hampir semua survey menyatakan bahwa Islam saat ini menjadi agama dengan penganut terbesar kedua di dunia. Jumlah ini akan semakin bertambah seiring dengan perkembangan manusia. Selain Asia Tengah yang terdiri dari negara-negara dengan dominasi Islam yang sangat kental, umat Islam yang terdapat di belahan dunia lain berbaur dengan berbagai ideologi dan budaya yang menjadikan nuansa Islam terpantul dalam beragam wajah. Di negara-negara arab mungkin anda akan menemukan perayaan yang hampir sama pada tanggal 1 Muharram, namun berbeda halnya dengan umat Islam di Indonesia. Tanggal 1 muharram disulap dalam berbagai bentuk selebrasi, entah turun ke jalanan dengan pembacaan sholawat, acara patik laut, atau doa-doa dalam bentuk persembahan-persembahan khusus.

Dengan jumlahnya yang begitu masif, mulai bermunculan persoalan kontemporer yang dihadapi umat Islam saat ini. Islam tampil dalam ranah agama sebagai identitas kelompok yang merujuk kepada keberadaan komunitas-komunitas keagamaan, kelompok-kelompok yang terdiri dari individu-individu yang diikat bersama oleh kesamaan atau kemiripan simbol-simbol keagamaan. Politisasi di Indonesia kebanyakan berlangsung berdasarkan persepsi sejumlah besar individu yang merasa bahwa diri merkea merupakan anggota dari kolektivitas-kolektivitas politik yang didefinisikan oleh identitas keagamaan. Sejumlah individu memandang bahwa kepentingan personal mereka secara signifikan terkait dengan kesejahteraan komunitas agamanya, berbenturan dengan kepentingan komunitas lain. Konflik-konflik komunitas keagamaan biasanya muncul dalam dua bentuk: (1) suatu komunitas agama mencoba menggulingkan kekuasaan imperialis asing yang menganut agama berbeda, dan (2) konflik antara dua atau lebih komunitas agama pribumi (Smith, 1970: 146-6). Dalam kedua kasus tersebut, simbol-simbol keagamaan digunakan untuk memobilisasi massa, melahirkan sikap dan tindakan oposisi terhadap lawan atau musuh dari komunitas yang berbeda. Karena perjuangan politik dimotivasi secara luas oleh konflik-konflik identitas keagamaan, konflik-konflik politik pada gilirannya memperkuat dan meneguhkan perasaan identitas kelompok keagamaan[13].

Sebagai contoh, dalam beberapa kurun waktu terakhir mata dan telinga kita disibukkan oleh pertikaian antara Sunni dan Syi’ah yang digencarkan oleh oknum-oknum tertentu. Problem kemadzhaban ini merupakan isu sensitif yang berhasil merongrong kekuasaan pemerintah. Meski bukan yang pertama, konflik di Irak dihembuskan oleh persoalan kemadzhaban. Kemudian berlanjut kepada konflik-konflik di negara Arab lainnya, seperti Suriah, Yaman, Libya, Mesir, dan lain sebagainya. Konflik yang terjadi di negara-negara tersebut lahir dari oknum-oknum yang mempertajam perbedaan madzhab, yang selama hampir seribu tahun sudah menghiasi perjalanan dunia Islam. Konflik ini juga menyuburkan munculnya komunitas-komunitas yang merasa dirinya paling benar dan paling bijak, yang pada akhirnya menyalahkan dan mengafirkan orang-orang di luar komunitasnya.

Sudah tak terhitung berapa besar kerugian materiil yang mendera umat Islam. Perkembangan budaya dan pembangunan terhambat disebabkan oleh konflik semacam ini. Umat Islam hanya disuguhi untuk berpikir bagaimana menegaskan identitas sebagai suatu komunitas tertentu. Mereka tidak lagi memikirkan bagaimana membangun sebuah bangunan peradaban dengan meningkatkan kualitas keilmuan Islam yang sempat menguasai dunia pada abad pertengahan. Jangankan untuk menguasai teknologi, malah pada zaman ini umat Islam yang berkiblat pada Barat dalam berbagai hal kecuali masalah agama. Bukan untuk memandang picik mengenai perkembangan Barat dengan beragam penemuan-penemuan mutakhirnya, namun kemana idealisme Islam yang dulu sempat menguasai khazanah pengetahuan di berbagai bidang? Kemana semangat penelitian yang dahulu melahirkan ulama sekaliber al-Khawarizmi, al-Biruni, dan lain sebagainya?

Berdasarkan hal itulah kembali kema’shuman saya tegaskan sebagai instrumen yang paling urgen pada zaman ini. Umat Islam membutuhkan satu pemimpin yang ma’shum dalam menjalankan roda keagamaan dan pemerintahan. Harus ada sosok yang menengahi atau bahkan menghentikan berbagai pertikaian antara internal Islam yang semakin memburuk. Sosok ma’shum inilah yang akan menjadi penyambung lidah antara manusia dengan lawyer-maker, yaitu Allah swt, sehingga segala macam perselisihan yang berangkat dari perbedaan akan dapat diselesaikan dengan bijak. Kami rasa untuk selalu berasumsi menunggu sosok al-Mahdi yang menurut hampir seluruh umat Islam–katanya- kelak akan menjadi pemersatu umat Islam, terlalu mengawang dan berbau spekulasi. Spekulasi bukan dalam artian karena ada atau tidaknya dalam nash, akan tetapi kapan waktu yang akan dijanjikan munculnya al-Mahdi? Oleh karena itu, menentukan satu pemimpin yang ma’shum pada zaman ini merupakan poin yang sangat penting. Karena kami rasa pasti ada di bumi ini satu orang yang dipilih oleh Allah sebagai penggerak roda keagamaan, penjaga hukum-hukum-Nya, dan yang melestarikan ajaran universal-Nya, yang dipersiapkan untuk memimpin umat Islam. Siapa dia? Itulah tugas kita untuk mencarinya!

[1] Manzur, Ibn. Lisanul ‘Arab (Juz ‘ain-shad-mim)

[2] Habsyi, Ali Umar. Dua Pusaka Nabi SAW. h 185

[3] Q.S 3:103

[4] Habsyi, Ali Umar. Dua Pusaka Nabi SAW. h 185

[5] Habsyi, Ali Umar. Dua Pusaka Nabi SAW. h 186

[6] Thabathaba’i. Islam Syiah (Asal-Usul dan Perkembangannya). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta. h 212-213

[7] Lari Mujtaba Musavi. Imamah Penerus Nabi Muhammad. (Lentera:Jakarta). 2004. h 195

[8] Syirazi Nasir Makarim. Inilah Aqidah Syi’ah. 1999. (Al Huda:Jakarta). h 26

[9] Tim. Antologi Islam. 2005. (Al Huda:Jakarta). h 91

[10] Thabathaba’i M. H. Islam Syiah (Asal-Usul dan Perkembangannya). (Pustaka Utama Grafiti:Jakarta). h 200

[11] Muthahari Murtadha. Khilafah dan Imamah. 1991. (Firdaus:Jakarta). h 75-76

[12] Syirazi Nasir Makarim. Inilah Aqidah Syi’ah. 2002. (Al Huda:Jakarta). h 77

[13] Latif Yudi. 2007. Dialektika Islam. (Jalasutra:Yogyakarta). h 58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s